Teori-teori Sosial Klasik

Teori-teori Sosial Klasik

Tugas Sosiologi Pertanian ke-1

Disusun Oleh :

Winda Yulistyani

150510100230

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS PERTANIAN

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

2010

Dalam ranah sosiologi, ada tiga tokoh besar yaitu Emile Durkheim, Max Weber, dan Karl Marx, mereka merupakan pencetus teori-teori sosial yang digolongkan ke dalam golongan klasik. Pemikiran ketiga tokoh ini merupakan basis dari teori-teori kontemporer. Dengan merujuk kepada pemikiran tokoh-tokoh ini, pemahaman dan ketajaman analisis terhadap masalah-masalah sosial kontemporer akan lebih baik. Ketiga tokoh tersebut dapat disebut sebagai pemikir besar sosiologi karena gagasan-gagasannya tentang masyarakat, peradaban, maupun konflik social, masih digunakan hingga saat ini.

Ketiga pendekatan tersebut tentu digunakan secara berbeda-beda untuk kepentingan yang berbeda pula. Durkheim lebih sering ditinjau ketika berbicara masalah sistem dan norma. Marxisme lebih banyak digunakan untuk menganalisis konflik dalam masyarkat kapitalis. Weber lebih menekankan pada tindakan sosial masyarakat dan menganalisis masyarakat kapitalis sebagaimana yang dilakukan Marx.

1. Teori Sosial Klasik Menurut Emile Durkheim

Emile Durkheim merupakan pemikir berkebangsaan Perancis yang lahir pada tahun 1858. Teori sosialnya berguna untuk membedah tentang pranata, institusi, maupun norma yang ada dalam masyarakat. Ciri yang sangat penting, menurut Durkheim, adalah struktur sosial yang terdiri dari norma-norma dan nilai-nilai. Secara sederhana, teori yang dikemukakan oleh Durkheim menyatakan bahwa ketika kita ingin melihat suatu kebudayaan, lihatlah institusi dan norma yang ada dalam kebudayaan tersebut sebab masyarakat terbentuk dari institusi dan norma-norma tersebut.

Pada mulanya, institusi dan norma itu diciptakan oleh masyarakat melalui kesepakatan bersama. Namun, dalam perjalanannya institusi dan norma itu tumbuh sendiri dan mandiri. Inilah yang disebut Durkheim sebagai realitas sui generis, dalam arti masyarakat memiliki eksistensinya sendiri.

Kita dapat mengambil contoh, misalnya sebuah institusi yang ada dalam masyarakat. Ketika terjadi kebobrokan, seringkali kita dihadapkan dengan persoalan apakah sistem yang rusak atau individu yang tidak beres? Menurut pandangan sui generis, sistem tidak lain sebagai “makhluk” yang terus hidup dan berkembang di luar realitas individu. Walaupun sistem itu awalnya dibentuk oleh individu-individu, pada perkembangannya, sistem itu bergerak menemukan pola sendiri di luar yang digariskan oleh kesepakatan individu.

2. Teori Sosial Klasik Menurut Max Weber

Weber menyatakan bahwa masyarakat terbentuk dari tindakan sosial atau bisa juga disebut sebagai tindakan komunikasi. Terbentuknya masyarakat ini berlangsung dalam jangka waktu yang sangat panjang melalui komunikasi dan kesepakatan bersama.

Weber berasusmsi bahwa perilaku atau tindakan kita merupakan respon dari tindakan orang lain terhadap diri kita. Inilah yang kemudian disebut sebagai tindakan sosial. Adanya sebuah interaksi yang dilakukan secara terus-menerus oleh individu-individu sehingga dapat menciptakan kelompok masyarakat, institusi, hukum, dan norma.

Teori tindakan sosial dari Weber ini kemudian dikembangkan oleh Jurgen Habemas menjadi teori tindakan komunikatif. Komunikasi merupakan kemampuan alamiah manusia yang akan membentuk dan mendorong terjadinya interaksi dalam masyarakat. Dengan kemampuan ini, upaya-upaya untuk meningkatkan hubungan social dan mencegah konflik menurut Habermas dapat dilakukan. Tentu hal ini dilakukan dengan jalan deliberatif.

3. Teori Sosial Klasik Menurut Karl Marx

Teori sosial Marx lebih menekankan pada perkembangan masyarakat yang ditinjau dari sudut pandang ekonomi politik. Masyarakat tidak lain merupakan hasil dari perkembangan kerja manusia dari yang primitif hingga yang paling modern. Teori sosial Marx dianggap sebagai teori yang paling tajam dalam menganalisis kesenjangan sosial.

Menurut Marx, dari analisisnya mengenai masyarakat berkelas, hubungan sosial masyarakat merupakan hubungan konflik. Teori sosial Marx dapat digolongkan sebagai teori konflik, karena teori ini melekat di masyarakat berupa konflik kepentingan yang tidak terhindari antara kelas dominan dengan kelas subordinat.

Perbedaan kelas sosial yang ada dalam masyarakat merupakan hasil ciptaan kelas dominan, entah melalui kekuasaan feodal, agama, maupun institusi lainnya. Struktur ketidaksetaraan ini terus dipelihara melalui berbagai cara. Pertama, struktur itu dipelihara jika orang-orang yang tidak beruntung dicegah jangan sampai memandang diri mereka tidak beruntung atau dirugikan. Kedua, meskipun diakui, mereka harus diiming-imingi bahwa kondisi tersebut cukup adil, serta ketidaksetaraan itu benar, absah, dan adil.

Misalnya, menjadi adil ketika seorang profesor bergaji lebih besar daripada seorang tukang sapu di jalan walaupun kebutuhan tukang sapu lebih banyak dari sang profesor. Seringkali kita dituntut untuk sabar oleh agama ketika mendapatkan suatu ketidakadilan dengan mengatakan bahwa nanti pengadilan Tuhan akan lebih adil. Dari analisisnya tentang masyarakat berkonflik, Marx memperjuangkan cita-citanya untuk menghapus kelas dalam masyarakat atau yang lebih dikenal dengan semangat “masyarakat tanpa kelas”.

Marx merupakan sosok pemikir yang banyak menimbulkan kontroversi karena teori sosialnya tidak hanya sebagai sebuah pemikiran tapi juga sebagai sebuah ideologi. Dalam prakteknya sebuah pemikiran filosof dapat berubah menjadi sebuah ideologi. Pada masa setelah Marx, masyarakat melihat pemikiran-pemikirannya sebagai sebuah kebenaran mutlak (dogma). Webber dan Durkheim tidak mengalami seperti apa yang dialami oleh Marx. Gagasan-gagasan mereka hanya tinggal menjadi sebuah pemikiran yang masih bisa diperdebatkan, didiskusikan. Mereka hanyalah para akademikus.

Perbedaan lain antara Marx dengan pemikiran Weber serta Durkheim adalah “cara memandang perubahan sosial”. Webber dan Durkheim melihat perkembangan sosial dengan memahami perkembangan tersebut serta mencari solusi terhadapnya. Tapi Marx justru melihat lebih jauh, dia tidak hanya mencari solusi tapi juga menganjurkan kepada masyarakat yang dibelanya untuk melakukan solusinya (action/praxis) dalam mengubah kondisi sosial. Adapun perbedaan lainnya adalah, Webber dan Durkheim melakukan observasi dengan asumsi-asumsi yang tidak memihak sedangkan Marx dari awal sudah melakukan pemihakan terhadap sekelompok masyarakat yang diamatinya dan mempunyai posisi tertentu. Sehingga jika nantinya Marx menemukan fakta yang tidak mendukung posisinya, dia akan mengabaikannya atau berpura-pura tidak tahu. Benar kiranya bahwa Marx a priori dan tidak objektif, tapi dalam menarik kesimpulan beberapa pemikirannya tetap relevan sepanjang masa.

Isi dari pemikiran Marx merupakan pembahasan terhadap kebenaran adanya kesewenang-wenangan dari satu pihak terhadap pihak lainnya. Ada pihak yang penindas dan ada pihak yang tertindas. Teori sosialnya menggambarkan betapa buruk nasib yang tertindas serta betapa jahatnya sikapnya si penindas. Dalam kondisi sekarang ini, ada salah satu pemikirannya yang masih relevan, yaitu hubungan penguasa dan pengusaha. Pengusaha mempunyai kepentingan ekonomi dan penguasa mempunyai kewenangan politik untuk memenuhi kepentingan ekonomi para pengusaha.

Pustaka

http://www.anneahira.com/teori-teori-sosial.htm

Jurnal Kuliah Perdana Teori Sosial Klasik (Jumat 6 September 2002, berdasarkan catatan kuliah Dosen: Prof. Dr. Maswadi Rauf, MA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s