Onfarm Tanaman Tomat

SISTEM AGRIBISNIS

ONFARM HORTIKULTURA TOMAT

logooo

 

Disusun oleh:

Kelompok 3

Winda Yulistyani                     A-230

Sutoyo Tobing                           A-244

Deka Rizki Pangestu               A-254

Sutrisno                                          A-256

Fajrianti Anandya H.            A-270

 

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

JATINANGOR

2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa  yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya  sehingga penyusunan tugas ini dapat diselesaikan.

Makalah ini disusun untuk diajukan sebagai  tugas mata kuliah Sistem Agribisnis dengan judul “ Onfarm Sektor Hortikultura Tomat ”. Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam  pemahaman Sistem Agribisnis yang mencakup onfarm dan proses yang berlangsung di dalamnya yang sangat diperlukan dalam suatu harapan mendapatkan pengetahuan yang baru tentang penerapan sistem dalam agribisnis.

Terima kasih disampaikan kepada Ibu Eliana Wulansari selaku dosen mata kuliah Sitem Agribisnis yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi lancarnya tugas ini.

Demikianlah tugas ini disusun semoga bermanfaat, kurang lebihnya kami ucapkan terima kasih

Jatinangor, 28 Februari  2011

BAB I

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Tanaman tomat termasuk keluarga besar “Solanaceae” keluarga ini tidak kurang dari 2.200 spesies, yang secara alamiah diciptakan untuk kelangsungan dan kebahagiaan hidup manusia. Tomat banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia dan dunia. Konsumsi tomat segar dan olahan meningkat terus seiring dengan kebutuhan manusia pada gizi yang seimbang. Namun, hingga sekarang para petani tomat di Indonesia masih kerepotan untuk memenuhi permintaan tomat segar dan olahan.

Pada saat ini tomat memiliki kedudukan yang baik, walaupun belum merata dalam menu atau gizi masyarakat. Di dataran rendah, lebih diutamakan menanam jenis-jenis terung yang nilai gizinya tidak setinggi buah tomat. Keadaan tersebut kemungkinan besar disebabkan hasilnya kurang, tau jenis bibitnya tidak cocok, atau kultur teknis yang belum memadai. Hingga saat ini orientasi bibit tomat sebagian besar masih ditujukan untuk daerah dataran tinggi. Namun, jenis-jenis tomat untuk dataran rendah kini mulai dikembangkan. Dengan perkembangan ilmu pertanian yang kini telah digalakkan, pasti varietas-varietas aru hasil penelitian dalam negeri akan bermunculan dan disebarluaskan di dataran rendah maupun dataran tinggi.

 

1.2    Batasan Masalah

Dalam pembahasan makalah ini kami melakukan pengumpulan data dengan pembatasan masalah yang di kaji dalam onfarm tanaman tomat. Adapun pembatasan masalah itu, yakni :

  • Pembibitan dan penyemaian tanaman tomat.
  • Onfarm sayuran, dalam hal ini tanaman sayuran buah tomat.
  • Hama dan penyakit tanaman tomat.
  • Aneka pengolahan buah tomat.

1.3    Tujuan yang Ingin Dicapai

Penyusunan makalah ini telah dilakukan dengan mencari pembahasan dari berbagai sumber yang berkaitan dengan kajian. Sehingga diharapkan dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

Kami berharap mampu menjelaskan pembibitan dan penyemaian tanaman tomat, cara penanaman dan pemeliharaan tomat, perawatan tanaman tomat, mengatasi hama dan penyakit yang menyerang tanaman tomat serta buah tomat, begitu pun mengetahui aneka olahan dari buah tomat.

1.4    Metode yang Digunakan

Perlu adanya metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini. Adapun metode yang kami gunakan, yaitu Metode deskriftif dengan teknik study kepustakaan atau literature, yaitu pengetahuan yang bersumber dari beberapa media tulis baik berupa buku, litelatur dan media lainnya yang tentu ada kaitannya masalah- masalah yang di bahas di dalam makalah ini.

  

BAB II

PENANAMAN TOMAT

2.1   Pembibitan Tanaman Tomat

Umumnya, pembibitan tomat dilakukan dengan menggunakan biji. Supaya kualitas dan kuantitas produksi terjamin, gunakan benih tomat unggul hibrida yang sudah banyak dijual di pasaran. Faktor posotif dari benih tomat hibrida sebagai berikut.

  1. Pertumbuhan tanaman sangat cepat dan berumur genjah.
  2. Sangat responsif terhadap perlakuan pemupukan tinggi.
  3. Buah yang dihasilkan lebih berkualitas dan bobotnya lebih berat dibandingkan dengan tomat biasa.
  4. dengan perlakuan yang sama, produksi setiap tanaman dan setiap luas tanam lebih besar dibandingkan dengan tomat biasa.

Sementara itu, faktor negatif dari benih tomat hibrida sebagai berikut.

  1. Peka terhadap serangan hama dan pengakit.
  2. Biaya yang diperlukan untuk perawatan cukup besar karena membutuhkan perawatan yang intensif.
  3. Bibit dari tanaman sendiri atau F2, F3, dan seterusnya tidak bisa ditanam kembali karena kualitas dan kuantitasnya akan menurun atau tidak sebaik induknya.

Setelah memperoleh benih yang diinginkan, rendam benih tersebut selama satu malam ke dalam air yang telah dihangatkan suam-suam kuku untuk menghentikan masa dormansinya (masa istirahat tumbuh). Benih yang telah dibeli tersebut tidak perlu diseleksi lagi sebab sudah diseleksi oleh perusahaan benih yang memproduksinya.

Lahhan seluas satu hektar membutuhkan benih tomat sebanyak 100-150 gram. dari jumlah tersebut kira-kira akan menghasilkan 16.000-18.000 tanaman. Setelah perendaman, biji bisa langsung ditanam di bedengan yang sebelumnya sudah disiapkan. Biji tomat ditanam ke dalam alur memanjang dengan jarak antar baris 10 cm dan jarak dalam baris 5 cm.

Setelah penanaman selesai, taburi biji tomat dengan tanah halus dan tutup dengan mulsa jerami atau karung basah. Untuk menmenghindari sengatan sinar matahari dan air hujan yang berlebihan, bedengan dipasangi atap dari plastik atau jerami. Posisi bedengan untuk pembibitan tomat sebaiknya memanjang dari arah utara ke arah selatan supaya terkena cahaya matahari pagi.

Selain dilakukan di  dalam bedengan, pembibitan bisa juga dilakukan di dalam plastik kecil berukuran 12 cm x 8 cm. Isi plastik tersebut dengan media tanam berupa tanah merah dan pupuk kandang yang halus (kedua bahan bisa diayak terlebih dahulu dengan ayakan yang lembut). Perbandingannya adalah dua ember tanah, satu ember pupuk kandang, 150 gram TSP atau 80 gram NPK, 75 gram insektisida, seperti Karbofuran atau Furadan.

Setelah terisi media tanam, plastik bisa disusun di dalam rak atau bedengan yang telah disiapkan, kemudian di siram ddengan air. Setelah itu tanam biji tomat satu persatu ke dalam plastik tersebut. Setelah semua pekerjaan usai, tutup rapat bedengan dengan plastik bening yang berkerangka bambu. Tujuan penutupan ini adalah untuk mencegah masuknya hama dan penyakit ke dalam bedengan dan untuk mempertahankan kelembapan.

Setelah biji tomat mulai berkecambah, plastik penutup bisa dibuka secara bertahap sambil tetap melakukan perawatan bibit, seperti penyiraman dan pembersihan gulma. Lakukan penyiraman pada pagi hari untuk mengantisipasi berkurangnya kadar air akibat penguapan yang terjadi pada siang hari. Sementara itu, pembersihan gulma dan pengendalian hama sebaiknya dilakukan secara manual, sebab bibit yang masih kecil tersebut terkadang masih sangat rentan terhadap insektisida. Namun, jika serangan hama sudah melewati ambang batas toleransi, penyemprotan dengan insektisida bisa dilakukan, tetapi harus dengan dosis separuh dari anjuran yang tertera pada label kemasan.

Umumnya pemupukan pada bibit semaian hanya mempergunakan pupuk daun, sebab pupuk dasar yang diberikan pada media tanam sudah cukup untuk mendukung pertumbuhan bibit. Jenis pupuk daun atau zat perangsang tumbuh (ZPT) yang bisa diberikan antara lain Gandasil D, Complesal, Atonik, dan Growmore. Pupuk ini cukup diberikan sekali, yakni ketika bibit berumur 10 hari dari persemaian.

Bibit dari persemaian siap dipindah ke lahan jika sudah berumur 15-20 hari atau lima helai daunnya sudah mulai tumbuh. Bibit yang cacat, rusak, atau terserang hama dan penyakit sebaiknya tidak ditanam.

2.2   Penyemaian Tanaman Tomat

Umumnya di seluruh dunia penanaman tomat didahului dengan menyemaikan bibit. Biji tomat memang dapat secara langsung ditanam di lapangan dan dapat tumbuh menjadibesar dan berbuah pula. Sistem ini dapat dilaksanakan bila kita menanam tomat sepetak dua petak, yang mudah diawasi dan dipelihara sendiri. Tidak demikian halnya bila kita akan menanam ratusan bahan sekaligus. Untuk penanaman secara langsung, pemeliharaannya sejak mulai tanam hingga umur satu bulan serba rumit, terutama dalam penjagaan terhadap serangan hama dan penyakit dan waktu penyiraman; selain itu membutuhkan bibit 3-4 kali lebih banyak daripada biasa. Oleh karena itu, dipilih jalan yang paling mudah, yaitu disemaikan dahulu sebelum ditanam.

2.2.1   Penyemaian

Menyemai tomat dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap menyemaikan biji dan tahap pemindahan semai ke dalam bumbunan.

2.2.2   Membuat Persemaian

Untuk menyemaikan bibit beberapa ratus batang saja dapat digunakan bak persemaian yang dibuat dari kayu yang murah, dengan ukuran:

–          Lebar               30-40 cm

–          Panjang           50-60 cm

–          Tinggi              15-20 cm

Untuk menyemaikan ribuan bibit lebih baik mempergunakan persemaian biasa. Petakan persemaian harus benar-benar gembur, dan dirabuk kompos 1 kaleng/meter panjang. Lebar petakan cukup dengan 75 cm, dengan aluran antara petakan selebar 40 cm untuk memudahkan pemeliharaan. Bibit disebar dalam aluran sedalam 1,5 cm, dan jarak aluran rata-rata 15 cm. Tiap-tiap petakan dapat memuat 5 aluran.

Untuk dapat menyemai bibit yang kuat pertumbuhannya pada setiap meter panjang aluran disebar rata-rata 300 buah biji. Maka setiap 1 meter panjang petakan dapat memuat 5 X 300 buah biji = 1.500 biji. Untuk 1 hektar tanaman tidak membutuhkan tanah seluas tadi, namun cukup 10 meter saja karena bijinya disebar merata dalam petakan. Biji yang telah disebar itu kemudian ditutup dengan kompos, lalu disiram. Untuk menghindarkan kerusakan akibat kekeringan atau hujan, petakan ditutup dengan jerami kering atau atap yang tingginya di bagian muka 100-125 cm dan bagian belakang 75-100 cm.

Penyiraman 1-2 hari sekali diperlukan, bergantung kepada keadaan cuaca. Rata-rata 7 hari setelah disebar, semai sudah tumbuh. Seminggu kemudian persemaian sudah mulai tampak daun pertama, lalu dipindahkan kedalam bumbun yang dibuat dari daun pisang yang berdiameter 5 cm dan tinggi 5 cm.

Besar kecilnya bumbun dapat diatur sesuai dengan rencana penanaman. Bila menghendaki bibit tomat yang tidak lebih tinggi dari 10 cm, maka ukuran tersebut cukup. Tetapi jika menghendaki bibit yang tingginya 15 cm atau lebih, diperlukan bumbunan yang lebih besar. Dalam pelaksanaan membumbun, semai hendaknya diusahakan jangan sampai akar pancarnya melengkung atau sengaja dilengkungkan.

Setelah selesai, semua bumbunan disimpan ditempat yang agak teduh, namun tidak lembab dan disiram secukupnya. Kekurangan sinar matahari mengakibatkan pertumbuhan selanjutnya akan lekas memanjang, namun lemas batangnya. Tanaman demikian bilamana ditanam dilapangan tidak akan cepat bangun dan mengalami hambatan dalam pertumbuhannya.

Untuk mencegah timbulnya penyakit daun/batang, semai tersebut seminggu sekali perlu disemprot dengan Dithane M 50. Penyakit yang dapat mengganas dalam penyimpanan bumbunan adalah penyakit leher akar (Fusarium), sebagai akibat dari kelembaban hawa yang tinggi, kurang sinar matahari, tidak mengalirnya hawa yang bersih, dan terlalu banyak penyiraman.

2.2.3   Memindahkan Semaian ke Lapangan

Pada umumnya bumbunan tomat dipindahkan ke lapangan bilamana tingginya rata-rata sudah mencapai 10 cm. Ketinggian ini dapat dicapai dengan medium tanah sebanyak yang berada dalam bumbunan. Lebih dari ukuran tadi batang tomatnya akan lemah tumbuhnya. Ukuran yang lebih tinggi dan batang tomat yang kuat sehat dapat diperoleh bilamana bumbunannya diperbesar, misalnya dua kali ukuran biasa. Semaian yang berukuran 15-25 m, bahkan ada yang sudah mulai keluar kuntum bunga pertamanya, memakan waktu lebih lama di persemaian, namun pertumbuhannya akan lebih cepat dan sehat.

Semaian yang dipindahkan dipilih yang kuat-kuat batangnya. Oleh karena itu, tidak salah kiranya bilamana dianjurkan untuk menyebar bibit lebih banyak dari yang semestinya dibutuhkan. Tidak dapat dibenarkan sama sekali bila semaian yang akan dipindahkan dipotong pucuknya, karena hal itu dapat menghambat pertumbuhan dan menurunkan hasil.

Sebelum mulai menanam, lapangan harus dibasahi terlebih dahulu jika sehari sebelmnya tidak turun hujan. Minimal lubang tanaman harus dibasahi setelah rabukya diaduk merata. Setelah ditanam, tanah dipadatkan dengan kedua belah tangan ke arah batang. Kemudin tanah sekitar batang dibentuk cekung dalam musim kemarau untuk memudahkan penyiraman. Dalam musim hujan diberi bentuk cembung untuk menghindarkan agar tanah disekitar batang tidak mudah larut. Bila dianggap perlu, setelah ditanam dan disiram itu tiap-tiap tanaman diberi pelindung dari kertas atau pelepah pisang, dan sebagainya.

BAB III

CARA MENANAM DAN MEMELIHARA TOMAT

            Saat paling tepat untuk menanam tomat adalah 2-4 minggu sebelum musim hujan berakhir (hal ini tidak berlaku pada penanaman tomat sistem mulsa plastik dan sistem hidroponik). Sebab, pada musim penghujan sebagian besar jenis tomat tidak tahan terhadap serangan hama dan penyakit.

Penanaman bibit tomat sebaiknya dilakukan pada sore atau pagi hari. Tujuannya untuk menghindari panas matahari sewaktu siang hari yang bisa menyebabkan bibit layu. Serangan hama dan penyakit dapat dicegah jika sebelum di tanam bibit direndam terlebih dahulu di dalam larutan fungisida dan bakterisida dengan konsentrasi 0,2%. Gunakan pestisida sistemik supaya dapat masuk dan bertahan agak lama di dalam jaringan tanaman.

Bibit yang sudah siap tanam dicabut dari persemaian beserta akar-akarnya. Jika bibit berasal dari persemaian plastik, robek dengan hati-hati supaya tanahnya tidak pecah dan akarnya tidak rusak. Selanjutnya, tanam bibit pada lubang-lubang bedengan dengan jarak 70-50 cm. Supaya tidak mudah busuk, tanam bibit sebatas leher akar atau pada pangkal batang tanpa mengikutsertakan batangnya. Setelah penanaman, bibit langsung disiram lalu pasang naungan dari dedaunan untuk mencegah dan melindunginya dari terik sinar matahari.

3.1   Penggarapan Tanah

Di dataran tinggi yang tanahnya termasuk jenis tanah pasir, rupa-rupa cara penggarapan tanah dilaksanakan, disesuaikan dengan kemapuan pembiayaannya masing-masing. Misalnya menanam tomat setelah menanam kol. Setelah sisa-sisa tanaman kol dibersihkan, segera dibuat lubang tanaman antara bekas tanaman kol, tanpa adanya penggarapan tanah terlebih dahulu. Penggarapan tanah diadakan bersamaan dengan membumbun tanaman menjelang umur kurang lebih satu bulan. Bagi petanmi yang tidak menyuklai penanaman secara ekstensif tadi, penggarapan tanah sebelum menanam merupakan suatu keharusan.

Maka setelah diadakan pembersihan terhadap sisa tanaman kol, tanah dikerjakan, sisa-sisa rabuk diratakan. Dibuat aluran dengan jarak rata-rata 75 cm (70-80 cm), kemudian dibuat lubang-lubang tanaman.

Di tanah yang berat, pembuatan petakan khusus diperlukan unutk dapat menjamin pembuangan air dan memudahkan pengairan. Jarak antar aluran  rata-rata 100-110 cm, lebar 25-30 cm, dan dalamnya 25-30 cm. Lebar petakan 70-80 cm. Tinggi petakan tidak jauh dari 20-25 cm. Biasanya tanah dicangkul satu kali untuk kemudain digemburkan.

Penggemburan tanah diperlukan sebelum menanam, namun adapula yang menjalankan sebelum penanaman, sekaligus dengan menyiang rumput. Sistem ini ada bahayanya, yaitu dapat merusak akar, yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.

3.2   Jarak Tanaman

Jarak tanaman dapat berbeda-beda. Menurut ukuran-ukuran tersebut diatas larikan 70-80 cm di dataran tinggi. Di dataran rendah yang tanahnya berat, jarak tanaman ditas larikan adalah 50-60 cm, dan antarlarikan 100-110 cm.

3.3   Dibiarkan Melata atau Diberi Turus?

Menanam tomat dibiarkan melata, berarti tanaman itu tumbuh sekehendaknya, bercabang dan beranting sekuat tenaganya. Bila diberi turus, berarti tanaman tomat diharuskan hanya membentuk satu batang, tidak lebih dan tidak kurang. Hanya, pada akhir pertumbuhannya diperbolehkan beranting dan bercabang.

Akhir-akhir ini ada sistem lain, yaitu tanaman dirambatkan pada pagar tali plastik. Untuk keperluan tersebut batang tomat pada ketinggian kira-kira 30 cm supaya bercabang dan kedua cabang dibiarkan tumbuh sebagai batang tunggal terus ke atas.

3.3.1   Dibiarkan Melata

Bila dibiarkan tumbuh melata, maka tanaman tomat dapat menutupi tanah, sehingga terhindar dari kekeringan. Tidak ada biaya ekstra untuk membeli turus dan tali. Tidak ada biaya untuk merompes batang atau tunas. Karena banyak cabangnya, maka kemungkinan besar bunga dan buahnya akan lebih banyak. Karena tumbuhnya rendah, maka banyak bunga terhindar dari akibat kencangnya angin yang kering.

Sebaliknya bila dibiarkan melata, karena sangat rimbun, kemungkinan besar banya bunga yang berjatuhan, dan hasilnya akan berkurang. Di daerah pegunungan, tanaman yang dibiarkan melata mudah diserang penyakit daun(Phytoptora dan Alternaria) yang bisa fatal bagi seluruh tanaman.

Selanjutnya buah tomat tidak akan merata besarnya, kebanyakan berukuran kecil. Untuk diproses dalam pabrik, ukuran buah tidak menjadi soal. Tetapi untuk dijual ke pasar, kualitas buah jadi kurang mendapat harga yang baik, apalagi di supermarket.

3.3.2   Diberi Turus

Tanaman tomat yang diarkan tumbuh erbatang pokok satu tidak bercabang, untung ruginya adalah sebagai berikut:

–          Memerlukan biaya ekstra untuk membeli turus, tali, dan pembuiang tunas.

–          Tanah mudah mengering. Maka bila pengairan kurang mendapat perhatian, bunga mudah rontok dan buahnya mudah rusak karena sengatan matahari, atau bnyak buah yang belah-belah bagian atasnya.

–          Tanaman akan menderita karenaangin yang keras dan kering.

Fakta yang menguntungkan:

–          Mudah mengadakan pembasmian penyakit atau hama.

–          Mudah mengadakan pengairan, tanpa adanya bahaya membasahi daun, sehingga penyakit infeksi daun dapat dihindarkan.

–          Mudah diterapkan bantuan persarian bunganya.

–          Dapat dipelihara buah yang rata-rata besar dan beratnya sama dan merata masaknya.

–          Kualitas buah meningkat, karena dapat sinar matahari yang cukup dan mudah memetik buahnya.

–          Rata-rata hasilnya banyak. Hasil rata-rata 1 kg/batang adalah cukup tinggi.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa “mengingat adanya faktor penyakit, udara yang terik, dan deras anginnya di dataran tinggi, seyogyanya ditempuh jalan menanam tomat berbatang tunggal dan diberi tunas”. Sedangkan di dataran rendah dibiarkan tumbuh melata, dan untuk menghadapi pertumbuhan yang terlalu rimbun dapat diusahakan mengurangi cabangnya.

3.4   Cara Menjalarkan Tanaman Tomat

Pemancangan turus dapat dilakukan beberapa hari setelah menanam, dengan sistem-sistem sebagai berikut:

  1. Dipancangkan satu turus tegak lurus setinggi 175 cmke dalam tanah 25-30 cm. Turus ini hruslah kuat.
  2. Dua turus yang berhadapan ujungnya dijadikan satu (diikat), tanaman tomat dibiarkan memanjat agak miring. Untuk memperkuat, beberapa ujung turus yang diikat dihubungkan satu dengan yang lain, lalu diikat dengan tali bambu.
  3. Empat turus ujungnya dijadikan satu. Tanaman tomat memanjatnya agak miring juga.

Bila menurut sistem (a) tanah antarlarikan tanaman akan kena sinar matahari, akibatnya tanah mengering, maka dengan sistem (b) dan (c)penguapan air tanah relatif banyak dikurangi yang efeknya baik bagi pertumbuhan keseluruhannya.

Menurut sistem (a) bilamana kita berjalan diatas larikan, maka badan kita akan mudah bergesekan dengan daun tomat, ini berarti memudahkan menjalarnya penyakit daun dari satu tanaman ke tanaman lainnya. Dengan sistem (b) dan (c) hal ini lebih banyak dihindarkan.

  1. Tanaman tomat dibiarkan menjalar pada pagar tali rafia (plastik) atau goni.

Dalam jajaran tanaman dipancangkan beberapa tonggak yang kuat setinggi ± 125 cm. Jarak antara tonggak adalah 2-2,5 cm; 30 cm di atas tanah dari ujung tonggak ke ujung tonggak lainnya ditambatkan tali rafia dan diikat erat-erat pada tiap tonggak. Tambang rafia ditambatkan 3-4 jajar dengan jarak 30 cm. Dengan demikian terbentuklah pagar tali rafia atau goni.

Tanaman tomat berbatang tunggal dibiarkan merambat pada pagar rafia dan diikat pada tali rafia sehingga seolah-olah terbentuk anyaman tanaman tomat dengan tali rafia. Dengan sistem pagar ini sering pula pada ketinggian ± 30 cm diatas tanah batang tomat dibiarkan bercabang dan terbentuklah tanaman yang berbatang dua. Sistem pagar ini arahnya diatur arah utara selatan untuk mendapat sinar matahari yang cukup.

3.5   Merompes Tunas

Merompes tunas yang keluar dari ketiak daun hendaknya dilakukan sedini mungkin. Ranting yang sudah agak besar, selain agak liat dan sukar dirompes, hakikatnya akan menghambat pertumbuhan batang utamanya dalam pembentukan bunga maupun pertumbuhan ke atasnya. Luka yang besar yang ditinggalkan oleh ranting yang besar akan mengakibatkan mudahnya terserang infeksi penyakit Pucuk utama harus dijaga jangan sampai patah dan baru dipotong setelah mencapai ketinggian ±100 cm atau lebih sedikit.

BAB IV

PEMELIHARAAN BUAH TOMAT

Usaha pemeliharaan tanaman terdiri atas:

–            Menyiangi rumput, sekaligus menimbun tanaman, dengan tanah yang berasal dari aluran antarlarikan atau petakan. Dalam melaksanakan kedua pekerjaan ini hendaknya diusahakan jangan sampai merusak akar, karena hal itu akan memudahkan adanya infeksi penyakit akar.

–            Merabuk. Cara menempatkan rabuk tambahan dilakukan dengan membuat aluran sedalam ±5 cm yang melingkari batang dengan jarak ±10 cm. Rabuk ditaburkan apda aluran dengan merata untuk kemudian ditutup dengan tanah kembali. Perabukan senantiasa diikuti dengan penyiraman.

–            Di dataran tinggi dengan tanahnya  yang serul dan mudah mengering, bilamana kurang rabuk kompos dapat diterapkan usaha menahan penguapan air tanah dengan menempatkan “mulsa” di sekitar batang tomat. Mulsa ini dapat terdiri dari jerami kering, rerumputan atau daun-daunan yang kering. Bilamana mulsa ini tidak terbeli, maka usaha untuk menghindarkan pengeringan permukaan tanah dapat dilaksanakan dnegan menggemburkan tanah beberapa sentimeter dalamnya. Hendaknya diusahakan jangan sampai merusak akarnya.

–            Pengairan.

 

4.1   Memetik Buah Tomat

Saatnya memetik buah tomat bergantung pada tujuan akhir dari bua tomat tersebut dan taraf masaknya buah itu sendiri. Buah tomat yang akan dikirim ke tempat yang jauh, dalam maupun luar negeri, dan akan mengalami guncangan dalam pengangkutan harus dipetik bilamana sudah tua benar, yaitu berwarna hijau tua. Buah tomat yang berwarna hijau tua itu lendir yang meliputi bijinya sudah tampak banyak memenuhi rongga buah, tidak demikian halnya dengan buah yang masih muda. Buah dengan taraf kematangan hijau tua disebut “hijau masak”.

Untuk diolah dlam pabrik sari buah tomat, pure tomat, atau tomat catsup, buah tomat dipetik bilamana sudah tampak warna merahnya. Stadium ini disebut “merah petik”. Buah tomat dalam stadium ini bilamana diperam dalam 1-2 hari dalam suhu tertentu maka warna merahnya akan keluar semua pada bagian luar maupun dalam. Untuk mendapatkan hasil-hasil tersebut diatas diperlukan buah tomat yang benar-benar merah semuanya. Warna hijau bilamana masih ada dalam buah akan mengubah warna tomato juice (sari buah tomat) atau pure tomat dan catsup menjadi agak sawo matang warnanya.

Buah tomat yang dipetik ”hijau masak” kadar viamin C-nya tidak setinggi yang sudah “merah petik”. Oleh karena itu, bagi penanam tomat dipekarangan yang menginginkan buah tomat yang setinggi- tingginya harus mau menunggu hingga buah tomatnya benar-benar merah dipohon. Rasanya akan lebih manis dan kadar vitamin C-nya tinggi.

Buah tomat dalam keadaan stadium petik apa pun tidak boleh jatuh, walaupun sedikit, pada saat pemetikan dan pengumpulan. Tiap-tiap kerusakan akan mengakibatkan pembusukan, tidak tahan lama dalam penyimpanan dan pengangkutan.

4.2   Pemilihan Buah Tomat

Dengan meningkatnya selera konsumen buah tomat supermarket di kota-kota besar maupun pasar-pasar khusus yang hanya menjual bahan-bahan yang terpilih, maka pemilihan buah tomat oleh penghasil maupun pedagang buah tomat sudah lama diperhatikan. Apalagi bila buah tomat sudah mempunya tijuan untuk diekspor ke luar negeri, penentuan kualitas pasti diperhatikan.

Kualitas buah tomat ditentukan oleh:

–            Ukurannya,

–            Warna buahnya,

–            Mulus kulitnya, tidak bercelah-celah, dan

–            Bebas dari penyakit maupun bekas jatuh.

Untuk memperindah warna, buah tomat dibersihkan dengan kain yang halus. Pencucian buah –bila perlu- harys dilakukan karena ada bekas obat-obatan atau kotoran tanah, namun sebelum diangkat harus sudah benar-benar kering. Buah tomat untuk ekspor besarnya harus rata dan dimasukkan ke dalam peti. Di luar negeri ukuran petinya sudah ditentukan dengan standar, demikian pula berat isinya, misalnya 4-5 kg per peti dan disusun dalam dua tingkat. Tiap-tiap buah dibungkus dengan kertas yang dapat mnyerap air.

Pada umumnya buah tomat yang berkualitas tinggi dibungkus dengan kertas yang indah, diberi cap dan sebagainya agar mempunya daya tarik lebih kepada pembeli sehingga mau membayar lebih mahal pula. Di luar negeri, hal-hal tersebut sudah lama dilakukan. Semoga di Indonesia dalam waktu yang tidak lama lagi akan mengikuti jejak teman-temannya dalam bidang pertomatan yang telah maju itu.

4.3   Pemeraman Buah Tomat

Untuk meningkatkan kemasakan buah tomat yamg masih “hijau masak” atau “merah petik” agar menjadi merah luar dalam, diperlukan beberapa hari pemeraman. Dalam suhu 100-1500 C buah tomat dapat bertahan agak lama dan perubahan warna akan berjalan dengan sempurna, rasanya pun akan meningkat. Dalam suhu tersebut buah tomat yang “hijau masak” dapat bertahan hingga 30 hari lamanya, sedangkan yang sudah “merah petik” bilamana disimpan dalam suhu 50 C dapat bertahan 10 hari. (Thompson & Kelly).

Dalam suhu yang tinggi seperti di pasar-pasar Indonesia, proses pemasakan buah akan berjalan cepat dan tidak akan bertahan lama. Buah tomat yang dijual ke pasar kebanyakan berwarna kuning. Ini menunjukkan bahwa buah tersebut masih terlalu muda ketika dipetik. Namun apa daya, buah demikian tetap laku karena konsumen masih belum mengenal nilainya buah tadi. Nilai gizi buah yang kuning maih sangat rendah, rasanya pun tidak selezat buah yang sudah masak benar.

BAB V

PERAWATAN TANAMAN

5.1   Pemasangan Ajir

Tanaman tomat mutlak memerlukan ajir atau turus dari bambu. Fungsi ajir antara lain untuk membantu menegakkan tanaman, mencegah tanaman roboh karena beban buah dan tiupan angin, mengoptimalkan sinar matahari ke tanaman, membantu penyebaran daun, mengatur pertumbuhan tunas dan ranting, mempermudah penyiangan, dan mempermudah penyemprotan atau pemupukan. Menurut penelitian  yang pernah dilakukan, penanaman tomat dengan menggunakan ajir dapat mendongkrak produksi buah tomat sampai 48%, bahkan terbukti mampu mengurangi serangan hama dan penyakit.

Pemasangan ajir dilakukan segera setelah tanaman tomat selesai ditanam di bedengan. Gunakan ajir bambu sepanjang 100cm untuk tomat tipe determinate dan ajir sepanjang 225 cm untuk tomat tipe indeterminate. Pasang ajir dengan jarak 10-20 cm dari tanaman tomat. Selanjutnya, ikat tanaman tomat pada ajir secara berkala mengikuti pertumbuhan tanaman.

sistem pemasangan ajir yang umum dilakukan oleh para petani tomat ada dua, yakni sistem segitiga dan sistem tunggal. Pemasangan ajir sistem segitiga adalah menggabungkan empat ajir menjadi satu dengan cara mengikat bagian atas bambu. Sementara itu, pada sistem tunggal, hanya digunakan satu buah ajir yang dihubungkan satu sama lain dengan bambu supaya tidak gampang roboh. Dari kedua sistem pemasagan ajir tersebut, sistem tunggal dianggap lebih baik karena sinar matahari yang diterima oleh tanaman tomat lebih optimal sehingga mampu mengurangi resiko menularnya hama dan penyakit.

5.2   Pemupukan

Pemupukan bertujuan untuk menambah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman sebab unsur hara yang terdapat dalam tanah tidak bisa diandalkan untuk memacu pertumbuhan tanaman tomat secara optimal, terutama pada penanaman sistem intensif. Unsur hara yang dibutuhkan tanaman meliputi unsur hara makro dan unsur hara mikro. Unsur hara makro adalah unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah relatif besar dibandingkan dengan unsur hara lainnya. Contoh unsur hara makro adalah seperti nitrogen (N), posfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan sulfur (S). Sementara itu, pengertian unsur hara mikro adalah unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah yang sangat kecil, tetapi fungsinya sangat penting dan tidak tergantikan. Contoh unsur hara mikro antara lain besi (Fe), seng (Zn), tembaga (Cu), mangan (Mn), boron (B), molybdenum (Mo), dan khlor (Cl).

5.2.1   Unsur Hara Makro

Nitrogen (N)

Nitrogen berperan besar untuk menyusun zat hijau daun, protein, lemak, dan membantu pertumbuhan vegetatif tanaman. Unsur hara makro ini disuplai oleh pupuk kandang, urea, pupuk Za, dan berbagai jenis pupuk daun. Gejala kekurangan unsur nitrogen menyebabkan warna daun berubah menjadi kekuningan atau kuning, jaringan daun mati, dan bentuk buah tidak sempurna.

Posfor (P)

Posfor (P) berperan penting sebagai penyusun inti sel lemak dan protein tanaman. Unsur hara makro ini diperoleh dari pupuk kandang, pupuk TSP, dan pupuk daun yang disemprotkan ke tanaman. Fungsi pupuk posfor adalah untuk merangsang pertumbuhan akar, bunga dan pemasakan buah. Kekurangan posfor (P) pada tanaman tomat menyebabkan pertumbuhan akar dan pertumbuhan generatifnya terganggu. Gejala kekurangan unsur ini biasanya ditandai dengan memerahnya bagian bawah daun, terutama di bagian tulang daun, kemudian disusul daun melengkung dan terpelintir.

Kalium (K)

Kalium (K) adalah salah satu unsur hara makro yang berfungsi sebagai penyusun protein dan karbohidrat pada tanaman. Selain diperoleh dari pupuk kandang, unsur ini juga disuplai oleh pupuk KCL, kalium sulfat atau ZK, potasium kalium nitrat, dan pupuk daun. Dalam peertumbuhan tanaman, kalium berperan untuk memperkuat bagian kayu tanaman, meningkatkan kualitas buah, meningkatkan ketahanan terhadap hama, penyakit, dan kekeringan. Kekurangan unsur kalium menyebabkan ujung daun menguning dan semakin lama berubah menjadi cokelat. Jika dibiarkan. daun-daun tersebut akan rontok.

Kalsium (Ca)

Kalsium (Ca) berperan sebagai pembentuk dinding sel tanaman. Selain disuplai lewat pupuk kandang, unsur hara ini juga diperoleh dari penambahan kapur, baik berupa kapur dolomit, kalsit, maupun kalsium khlorida. Fungsi kalsium adalah mengeraskan bagian kayu tanaman, merangsang pembentukan akar halus, mempertebal dinding sel buah, dan merangsang pertumbuhan biji. Kekurangan kalsium pada tanaman tomat menyebabkan penyakit fisioligis, biasanya ditandai dengan gejala mirip serangan blossom and root. Penyakit fisiologis inimenyerang tanaman muda dan dewasa. Gejalanya mudah dikenalilewat tanda-tanda khas yang tampak dari daun hingga buahnya.

Magnesium (Mg)

Magnesium (Mg) berperan penting sebagai penyusun khlorofil, mengaktifkan enzim yang berhubungan dengan metabolisme karbohidrat, dan menambah kadar minyak pada tanaman. Unsur hara ini diperoleh dari pupuk kandang, kapur dolomit, kieserite, dan pupuk daun yang mengandung Mg. Kekurangan unsur magnesium pada tanaman tomat menyebabkan terjadinya klorosis (menguning) pada tulang-tulang daun yang sudah tua. Selain itu, warna daun akan berubah menjadi kuning dan muncul bercak-bercak cokelat dipermukaannya.

Sulfur (S)

Sulfur berfungsi sebagai penyusun protein, vitamin, dan membantu pembentukan zat hijau daun. Selain diperoleh dari pupuk kandang, unsur hara ini juga bisa disuplai dari penambahan pupuk buatan ZA, pupuk daun, dan pupuk multi-micro yang mengandung 5,3% sulfur. Jika tanaman kekurangan sulfur, pada daun-daunnya akan muncul gejala klorosis (menguning).

5.2.2   Unsur Hara Mikro

Besi (Fe)

Besi berperan sebagai pembentuk klorofil, penyusun protein, dan penyusun enzim. Unsur hara ini diperoleh dari pupuk kandang dan pupuk kimia. Kekurangan unsur besi (Fe) pada tanaman tomat menyebabkan pertumbuhan tomat terhambat, daun berguguran, dan pucuk tanaman mati. Gejala yang mendahului kekurangan unsur besi biasanya berupa menguningnya daun-dau muda dan tulang daun.

Boron (B)

Boron berperan dalam pembentukan protein, pembentukan buah, dan perkembangan akar. Unsur hara ini dapat diperoleh lewat pupuk kandang, borax atau borate, asam borate, dan pupuk mikro. gejala kekurangan unsur boron (B) pada pada tanaman tomat biasanya ditandai dengan pembentukan cabang yang tumbuh sejajar berdampingan, ruas tanaman memendenk, dan batang tanaman keropos.

Seng (Zn)

Unsur hara mikro ini berfungsi sebagai katalisator dalam pembentukan protein, mengatur pembentukan asam ondoleasetik (asam yang berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh tanaman), dan berperan aktif dalam transformasi karbohidrat. Unsur ini bisa disuplai lewat pupuk daun yang mengandung unsur Zn. Kekurangan unsur hara Zn tudak begitu berarti bagi tanaman tomat.

Mangan (Mn)

Unsur hara mikro ini berfungsi sebagai aktifator berbagai enzim yang berperan dalam proses perombakan karbohidrat dan metabolisme nitrogen. mangan bisa disuplai lewat pemberian pupuk daun yang mengandung Mn. Gejala kekurangan unsur Mn pada tanaman tomat tidak bisa diketahui secara langsung tanpa membawa sample daun atau tanah ke laboratorium.

Tembaga (Cu)

Tembaga berperan sebagai aktifator berbagai enzim dalam proses penyimpanan cadangan makanan, katalisator dalam proses pernapasan dan perombakan karbohidrat, salah satu elemen dalam pembentukan vitamin A, dan secara tidak langsungberperan dalam proses pembentukan klorofil. Biasanya unsur hara mikro ini disuplai dari pupuk daunyang mengandung Cu. Kekurangan unsur tembaga (Cu) menyebabkan tanaman tumbuh tidak sempurna (kerdil) dan pembentukan buah atau bunga sering gagal.

Molibdenum (Mo)

Molibdenum berperan dalam penyerapan N, pengikatan N, asimilasi n, dan secara tidak lagsung berperan didalam pembentukan asam amino dan protein tanaman. Kekurangan unsur ini biasanya disuplai lewat upaya pengapuran. Gejala kekurangan unsur molibdenum pada tanaman tidak bisa langsung diketahui tanpa membawanya ke laboratorium terlebih dahulu.

Khlor (Cl)

Khlor dibutuhkan dalam proses fotosintesis, terutama berkaitan langsung dengan pengaturan tekanan osmosis di dalam sel tanaman. Kekurangan khlor sangat jarang terjadi karena unsur ini banyak tersedia secara alami di dalam tanah. Gejala kekurangan khlor pada tanaman tomat ditunjukkan dengan munculnya bercak-bercak kuning di permukaan daun dan daun menjadi layu serta berwarna kuning.

Aplikasi pemupukan pada tanaman tomat bisa menggunakan pupuk organik dan pupuk anorganik. Bahan baku dari pupuk  organik berasal dari kotoran sapi, kotoran ayam, dan kotoran kambing atau domba. Setiap jenis kotoran hewan tersebut memiliki kandungan unsur hara yang berbeda-beda.

Tabel Kandungan Unsur Hara pada Berbagai Jenis Pupuk Kandang

Jenis Pupuk Kandang

N

P

K

%

Ca

Mg

Mn

Zn

Mg/Kg

B

Sapi

2,33

0,61

1,58

1,040

0,38

1792,0

70,5

3,69

Kuda

1,57

0,68

0,77

1,640

0,49

2478,5

109,5

3,60

Domba

2,46

0,76

2,03

1,990

0.70

3773,0

111,0

8,67

Ayam

3,21

3,21

1,57

9,625

1,44

22506,0

315,0

11,43

Sumber  : Nunung Nurtika (Laboratorium Tanah Balithor Lembang, 1984).

Sementara itu, pupuk anorganik yang digunakan bisa berasal dari pupuk tunggal, seperti urea (nitrogen), Za (nitrogen), KCL (kalium), dan TSP (posfor). Untuk tanaman tomat dan tanaman lain dari Solanacearum sebaiknya tidak memakai pupuk yang kandungan N-nya berasal dari urea, tetapi lebih disarankan untuk menggunakan pupuk Za karena tanaman inni sudah bisa mengikat unsur N dari udara.

Saat masa awal pertumbuhan, tanaman sebaiknya dipupuk dengan pupuk yang kandungan nitrogen dan posfornya tinggi. Setelah dewasa dan mendekati masa-masa produktif, gunakan pupuk yang kandungan kaliumnya tinggi. Tambahkan juga berbagai unsur mikro, seperti Ca, Mn, Mg, Cu, Zn, dan Mb. Sebab, jika kekurangan salah satu saja dari unsur-unsur mikro diatas, tanaman akan mengalami penyakit fisiologis. Gejala yang bisa dilihat aibat penyakit ini, antara lain pembentukan bunga yang tidak sempurna, penyerbukan kurang optimal, buah yang dihasilkan cacat, terserang blossom and root, dan tidak bisa mengikat salah satu unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya.

Pada penanaman tomat sistem konvensional, pupuk organik diberikan sewaktu pengolahan lahan. Sementara itu, pupuk anorganik diberikan secara bertahap sebanyak 4 kali. Aplikasi pertama dilakukan pada saat tanam dan aplikasi berikutnya berturut-turut 10 hari setelah tanam, 24 hari setelah tanam, dan 44 hari setelah tanam. Cara aplikasi yang biasa dipakai yakni menaburkan pupuk anorganik ke dalam beberapa lubang yang dibuat di sekeliling tanaman tomat. Cara lainnya adalah membuat lubang sedalam 5 cm di antara tanaman tomat dengan jarak 10 cm setiap lubangnya. Supaya kedalamannya seragam, lubang dibuat dengan menggunakan tugal. Secara lebih rinci, dosis dan waktu pemupukan dapat dilihat pada table berikut ini.

Tabel Dosis dan Waktu Pemupukan Tanaman Tomat dengan Pupuk Tunggal (kg/ha)

Jenis Pupuk

Pemupukan I pada saat Tanam

Pemupukan II 10 hst

Pemupukan III 24 hst

Pemupukan IV 44 hst

Za

200

100

100

100

SP 36

170

KCL

120

60

40

Sumber  : PT. Tanindo Subur Prima

Tabel Pemupukan Tanaman Tomat dengan Pupuk NPK (Kg/Ha)

Jenis Pupuk

Pemupukan I pada saat Tanam

Pemupukan II 4 minggu hst

Pemupukan III 8 minggu hst

Jumlah Total

NPK

333

333

333

1000

Keterangan  : Diolah dari berbagai sumber

Pupuk NPK yang biasa dipergunakan untuk memupuk tanaman tomat antara lain NPK 15-15-15, NPK 16-16-16 + TE (trace element), NPK 12-34-12, NPK 8-24-24, 12-12-7, atau NPK 4-16-12. Perbandingan komposisi pada setiap pupuk NPK tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda. Jika pupuk yang dipergunakan tidak mengandung unsur hara mikro, tambahkan pupuk mikro lewat tanah atau lewat penyemprotan pada daun. Identifikasi kekurangan unsur hara mikro pada tanaman tomat dapat dilakukan dengan membawa sample tanah dan sample daun tomat ke laboratorium analisis tanah.

5.3   Pengairan

Pengairan termasuk faktor penting dalam pertumbuhan tanaman tomat. Salah satu tujuan pengairan adalah mengganti air yang hilang akibat diserap tanaman atau penguapan. Selain untuk mengganti kehilangan air, pengairan juga berguna dalam proses pembentukan bunga dan buah.

Pengairan bisa dilakukan dengan sistem perendaman, yakni melalui air irigasi yang dialirkan lewat parit-parit di antara bedengan. Cara lainnya, air disiramkan langsung di atas bedengan. Sumber air berasal dari sungai atau dari sumur yang dibuat di dekat areal kebun. Sumur dangkal bisa di buat di lahan sawah yang tidak memiliki sumber air tetapi memiliki air tanah yang dangkal. Sebagai patokan, lahan seluas satu hektar kira-kira bisa dibuat 4 buah sumur dangkal. Air dari sumur tersebut dialirkan ke bedengan dengan menggunakan pompa air portable yang berpenggerak mesin diesel atau bensin.

Pengairan pada lahan sawah dengan sistem perendaman hanya membuthkan waktu satu minggu sekali. Tinggi perendaman hanya sekitar tiga perempat dari tinggi bedengan. Supaya permukaan bedengan tetap basah, lakukan penyiraman dengan menggunakan ember. Sementara itu, jika musim penghujan turun aturlah sistem pembuangannya supaya aliran airnya lancar sehingga akar tomat tidak tergenang air terlalu lama. Akar atau bedengan yang sering terendam air menyebabkan kelembapan tinggi. Akibatnya, akan mengundang penyakit yang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum dan cendawan Fusarium oxysporum. Sementara itu, pengairan lahan bukan sawah, bisa dilakukan secara manual dengan menggunakan ember atau selang yang disiramkan langsung satu persatu ke tanaman.

5.4   Pemangkasan

Pemangkasan tanaman tomat dilakukan terhadap tunas air; daun tua; daun yang terserang penyakit; buah yang cacat, rusak, atau terserang hama dan penyakit. Selain bertujuan membuang tunas, pemangkasan tunas air juga bermanfaat untuk pembentukan tanaman.

Pembentukan tanaman tomat lewat pemangkasan tunas air atau wiwilan dilakukan pada tanaman tomat tipe indeterminate. Pada dasarnya pembentukan tanaman tomat digolongkan menjadi dua, yakni sistem pemeliharaan satu batang dan sistem pemeliharaan dua batang. Sistem pemeliharaan satu batang dilakukan dengan memamgkas semua tunas air dan hanya menyisakan satu batang utama. Sementara itu, pada sistem pemeliharaan dua batang, semua tunas air dipangkas kecuali tunas yang tumbuh di bawah tandang bunga pertama. Tunas air yang disisakan ini akan membentuk cabang sebagai batang kedua yang akan menghasilkan buah.

Pemangkasan daun tua atau daun yang terkena serangan hama dan penyakit bertujuan untuk memperlancar sinar matahari yang masuk ketanaman dan mengurangi risiko menularnya hama dan penyakit. Waktu pemangkasan sebaiknya pada pagi hari karena tunas air dan daun masih banyak mengandung air sehingga mudah dipatahkan. Setelah pemangkasan selesai, semua daun dan buah yang terkumpul ditempatkan ke dalam wadah khusus lalu musnahkan dengan cara dibakar atau ditimbun ke dalam lubang sehingga bisa mengurangi risiko menularnya hama dan penyakit.

Sementara itu, pemangkasan pada buah ditujukan untuk buah yang cacat, rusak atau terkena hama dan penyakit. Buah yang sudah terkena hama dan penyakit harus secepatnya dibuang sehingga tidak menular kepada buah yang lain.

BAB VI

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN TOMAT

Tanaman tomat tidak terbebas dari hama dan penyakit. Tiap-tipa bagiannya dapat diserang. Didaerah tinggi yang udaranya lebih lembab daripada di dataran rendah, serangan penyakit lebih tinggi. Di daerah tersebut penanam tomat berjuang mati-matian untuk menanam tanamannya dari serangan penyakit daun. Hingga saat ini belum ada satu jenis tomat pun yang imun atau toleran terhadap penyakit tersebut.

Hasil panen tomat yang berkualitas, selain ditentukan oleh pemeliharaan dan pemupukan juga tergantung dari cara mengatasi hama dan penyakitnya. Para petani di Indonesia umumnya menghabiskan 40% biaya untuk mengatasi hama dan penyakit. Umumnya cara yang mereka terapkan adalah mencampurkan beberapa pestisida, seperti insektisida, fungisida, dan bakterisida.secara bersamaan dan beerulang-ulang dalam waktu yang lama. Perlakuan tersebut terus mereka terapkan karena tidak mengetahui penyakit atau hama yang menyerang tanamannya. Untuk menghindari hal tersebut, pengetahuan tentang hama dan penyakit serta cara pengendaliannya menjadi sangat penting.

Dalam prakteknya, penyemprotan pestisida sebaiknya tidak dicampur dengan pestisida lainnya. Beberapa pestisida tertentu, tidak bisa dicampur dengan pestisida lainnya. Beberapa pestisida tertentu, tidak bisa dicampur dengan pestisida lain, misalnya yang berbahan aktif tembaga tidak bisa dicampur dengan pestisida yang berbahan aktif asam. Hal ini dapat dihindari dengan melihat kandungan bahan aktif di dalam kemasannya. Waktu penyemprotan sebaiknya dilakukan pada pagi hari antara pukul 07.00-10.00 dan sore hari setelah pukul 15.00. Kisaran waktu tersebut dipilih karena jika terlalu pagi dikhawatirkan masih banyak embun pada daun yang dapat mengurangi fungsi pestisida. Sementara itu, jika aplikasi diberikan terlalu siang, pestisida dapat dengan cepat menguap sehingga bisa menimbulkan kerugian. Penyemprotan ketika musim hujan juga bisa mendatangkan masalah, yakni pupuk mudah larut terbawa bersama air hujan. Karena itu, jika penyemprotan dilakukan ketika musim hujan, campur  larutan pestisida dengan bahan pelarut atau bahan pembasah (surfaktan) sehingga bisa merekat pada daun dan tidak tercuci oleh air hujan.

Penyemprotan sebaiknya dilakukan jika populasi hama atau penyakit sudah melewati ambang batas toleransi. Ketika penyemprotan dilakukan, perhatikan juga keselamatan pekerja supaya tidak keracunan. Sebaiknya pekerja dilengkapi dengan peralatan pengaman, seperti sarung tangan, baju lengan panjang, topi, kacamata dan masker. Selain memperhatikan keselamatan pekerja, konsumen juga perlu dilindungi dari sisa-sisa cemaran pestisida yang masih menempel pada buah tomat. Hal tersebut dapat dicegah jika penyemprotan dihentukan sekitar dua minggu menjelang buah dipanen.

Seperti pada tanaman-tanaman semusim lainnya, keberadaan hama dan penyakit pada tomat juga bisa mendatangkan bencana bagi para petaninya. Namun, setidaknya masalah tersebut dapat dicegah dengan mengetahui jenis-jenis dan penyakit yang sering menyerang tanaman tomat. Tidak itu saja, cara mengatasinya juga perlu diketahui, terutama jenis pestisida yang cocok untuk diaplikasikan.

6.1   Beberapa Hama yang Penting

  1. Nematoda

Nematoda adalah sejenis cacing tanah yang berukuran sangat kecil, yaitu 0,4-0,8 mm untuk yang betina dan 1,2-1,9 mm untuk yang jantan. Seekor cacing betina dapat bertelur 600-800 butir, maksimum 2.882 butir. (Tyler). Kapasitas tersebut bergantung pada tanaman inang dan keadaan tanahnya.

  1. Heterodera

Heterodera ini mulutnya khusus mulutnya membuat lubag pada kulit akar, untuk menghisap airnya, kemudain masuk kedalam akar dan menetap didalmnya dengan arah membujur. Akibat “ulah” ini akar tomat akan membengkak dengan bentuk tidak merata. Pembengkakan ini dapat bertahan lama, kemudian membusuk dan datanglah serangan baru dari pihak bakteri maupun cendawan. Serangan sedang-sedang saja akibatnya cukup terasa pula dengan sangat menurunnya hasil.

Bila dalam kompleks tanaman tomat terdapat salah satu tanaman yang tumbuhnya merana, walaupun sudah mendapat rabuk yang cukup, itulah gejala  adanya serangan “nematoda”. Jika diperiksa akarnya bengkak dan tidak merata, maka dapat dipastikan bahwa tanaman tomat itu terserang Heterodera. Serangan ini dapat meluas dan tanah dapat dinyatakan sudah dihuni oelh beribu-ribu Nematoda.

Tanah yang dihuni Heterodera ini biasanya tanah yang sudah bertahun-tahun diusahakan dan kekurangan kadar humus. Peningkatan kadar humus hanya dapat dicapai dengan peningkatan penggunaan rabuk kandang atau organik. Dengan usaha ini dapat pula ditingkatkan banyaknya penghuni cacing lainnya yang dapat mengurangi populasi cacing Nematoda, yaitu cacing hujan atau cacing kalung. Usaha preventif ini sangat dianjurkan untuk daerah pegunungan yang tanahnya serul atau berpasir tinggi.

Obat untuk membasmi Nematoda adalah Nematisida yang diperdagangkan dibawah nama Temik 10 G atau Nemagon. Obat ini ditaburkan di antara atau di tengah-tengah dua lubanga tanaman sebelum menanam, yaitu sebanyak satu gram per lubang.

  1. Hama Ulat Tanah (Prodenia ipsilon)

Ulat tanah biasanya banyak berjangkit di daerah tinggi dan menyerang tanaman tomat yang masih muda atau baru ditanam. Batang yang masih lunak menjadi sasarannya. Warna ulat tanah ini bermacam-macam, ada yang kehitam-hitaman dan sebagainya, tetapi kebanyakan berwarna hitam. Pada siang hari ulat ini berada di dalam tanah, tidak jauh dari tanaman yang dirusaknya. Gejala serangannya tampak sebagai berikut: Tanaman tomat yang  masih muda dipotong dekat permukaan tanah, dan sisa batang bagian atasnya dibiarkan.

Hama ini banyak menyerang pada musim kemarau. Cara pembasmiannya dapat dilaksanakan dengan mengumpulkan ulat secara langsung, atau menyemprot dengan insektisida batang tanaman dan tanah disekitar setelah menanam. Penempatan insektisida buliran (BHC dan lain-lain) dicampur dengan rabuk dasar mempunyai hasil yang efektif pula.

  1. Ulat Buah

Ulat ini senang menyerang tomat yang masih muda sehingga buahnya sering berlubang dan bisa membusuk karena infeksi. Penyebabnya adalah ulat Helicoverpa spp. Buah tomat yang sudah terserang hama ini harus langsung dipetik dan dimusnahkan supaya tidak menular ke tanaman lain yang masih sehat. Ulat ini bisa diberantas dengan menyemprotkan insektisida Supracida, Curacron, atau Buldok. Gunakan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

  1. e.       Lalat Buah

Ciri lalat buah atau Dacus durcalis adalan berwarna cokelat kekuningan dengan garis kuning membujur pada punggung. Lalat ini umumnya menyerang dengan cara menyuntikkan telur-telurnya ke dalam kulit buah tomat. Telur-telur tersebut akan berubah menjadi larva yang akan menggerogoti buah tomat dari dalam sehingga buah tersebut menjadi busuk dan rontok.

Lalat buah dapat dikendalikan dengan cara menyemprotkan insektisida sistemik sejak buah berumur satu minggu. Gunakan dosis sesuai dengan yang tertera pada kemasan. Cara lain yang tak kalah efektifnya adalah menggunakan perangkap lalat buah yang berbahan aktif methyl eugenol, misalnya M-antraktan. Untuk menghindari cemaran sisa-sisa insektisida, hentikan penyemprotan pada dua minggu menjelang panen.

  1. f.       Ulat Daun

Ulat daun Spodoptera litura sering menyeyrang tanaman tomat. Ulat tersebut menyerang daun dengan cara menggigitnya sehingga daun berlubang atau rusak. Akibat rusaknya daun, proses fotosintesis menjadi terganggu. Atasi ulat daun dengan menyemprotkan insektisida racun kontak atau racun perut. Langkah pencegahan bisa dilakukan dengan menjaga sanitasi kebun.

  1. g.      Rayap

Serangan rayap ditandai dengan adanya alur atau terowongan dari tanah yang menempel pada pohon. Selain menyerang batang, rayap juga menyerang akar tanaman tomat. Serangan rayap dapat berakibat fatal yakni kematian tanaman.

Untuk mencegah serangan rayap, sanitasi kebun harus dijaga, terutama areal kebun harus harus bebas dari kayu-kayu bekas tebangan. Sementara itu, untuk mengatasi rayap, lakukan penaburan insektisida berbahan aktif karbofuran pada bedengan.

  1. h.      Kutu Putih

Hama kutu putih (Pseudococus sp.) berbentuk bulat berwarna kehijauan dan tumbuhnya diselimuti oleh lalisan lilin berwarna keputihan. Kutu putih menyerang tanaman tomat dengan cara menghisap cairan daun. Hama ini juga membawa penyakit embun jelaga. Kotorannya yang terasa manis juga mengundang semut. Akibat serangan kutu putih daun menjadi keriting dan bunga atau buahnya mengalami kerontokan. Pemberantasan kutu putih juga harus diikuti dengan pemberantasan semut yang menjadi media penyebaran hama kutu putih dan embun jelaga. Gunakan insektisida dan akarisida untuk memberantasnya.

  1. i.        Semut dan Belalang

Semut dan belalang umumnya menyerang tomat ketika masih berupa bbibit di perdemaian. Kedua hewan ini merusak bibit dengan cara menggigit dan memakannya sehingga bibit tidak bisa ditanam lagi. Atasi hama ini dengan insektisida racun kontak atau sebarkan pada media persemaian insektisida Furadan 3G yang berbahan aktif karbofuran.

6.2   Hama Penting yang Menyerang Daun

– Jenis-jenis Tungau (Myten)

a.        Tungau hijau kekuning-kuningan (Tarsenemus transculucens)

Tungau ini dapat menyerang tanaman tomat, lombok, terung, tanaman hias, dan sebagainya. Berukuran kecil, panjangnya hanya 0,25 mm, badannya licin, tembus cahaya, kakinya halus, dan sukar dilihat dengan mata biasa. Banyak berkembang biak dalam bulan Desember/Januari. Gejala infeksi pertama tampak pada daun dari warna hijau berubah menjadi wana “brons”. Perubahan warna terjadi setelah 8-10 hari tungau ini menetap. Lima hari setelah perubahan warna ini terjadi bila daun ucuk yang diserang tampak mengering, mengerut. Kuntum bunga tidak bebas dari serangan. Kerusakan itu akibat dari pengisapan air dari dalam daun, kuntum, dan bunga.

b.        Tungau merah (Tetranichus bimaculatus)

Tungau ini merupakan penduduk dunia yang terkenal. Ia dapat menyerang segala jenis tanaman dari tanaman tomat, kedelai, terung, kentang hingga teh, karet, pepaya, beberapa jenis sayuran, dan sebagainya. Tungau merah ini besarnya rata-rata hanya 0,5 mm. Warnanya merah karmijn. Kaki dan moncongnya berwarna putih.

Tungau ini mudah dilihat, berjalan kian kemari dengan santai, sebentar-sebentar sambil menghisap daun. Mereka menetap dibagian bawah daun, sering pula berada dibawah sarang yang mereka bentuk sendiri. Tempat yang paling merek gemari ialah dibagian daun, dimana tulang daun bercabang atau disamping tulang daun. Oleh karena itu, gejala-gejala pertama dan yang paling parah adalah di tempat-tempat tersebut.

Tungau ini mudah berkembang biak pada suhu 13-270 C atau lebih, demikian pula pada keadaan udara yang kering. Oleh karena itu, dalam musim kemarau yang terik seranangan tunagu merah ini sangat fatal. Serangannya akan berkurang ilamana hujan sudah mulai turun.

c.         Tungau Thrips Tabaci (guram)

Selain menyerang tomat Thrips pun dapat meyerang lombok, kentang, labu, bayam, dan sebagainya, hingga tanaman hias. Karena ukuran thrips agak lebih besar dari Myten, maka ia mudah dilihat. Mereka banyak berdiam di bagian bawah daun. Bilamana Myten  lebih menyukai musim yang kering, sebaliknya Thrips menyukai hawa yang lembab.

Gejala serangannya tampak pada perubahan warna bagian bawah, yaitu hijau menjadi warna perak berkilau. Selanjutnya warna tersebut berubah menjadi sawo muda berbintik-bintik hitam. Thrips dapat dibasmi dengan berbagai macam obat yang mutakhir, seperti Folidol, Malathion Diazinon, dsb. Sebaliknya, Myten minta obat yang khusus, yang disebut obat Acarasida. Insektisida yang modern pun mengandung racun anti Myten, sehingga amat luas daya bunuhnya.

Insektisida yang “kontroversional” terhadap Myten dan masih dapat dijamin keampuhannya adalah tepung belerang. Tepung belerang yang sangat halus dapat dibuat sendiri, mudah ditebarkan pada siang hari atau disemprotkan dengan air dalam perbandingan 3 liter air ditambah 3 sendok belerang.\

d.        Hama ulat buah (Heliotis sp.)

Selain menyerang tomat, ulat Heliotis banyak pula merusak buah jagung. Bagian yang diserang adalah buah yang sudah mulai mulai membesar hingga yang sudah hampir tua. Seluruh bagian buah dapat dirusak karena mereka sangat suka menetap di dalam buah. Secara preventif pembasmiannya adalah dengan menyemprotkan insektisida dua minggu sekali bilamana buah sudah mulai berkembang. Heliotis ini banayak berjangkit dalam musim kemarau.

e.         Kutu daun

Kutu daun (Myzus perpicae) menyerang tanaman tomat dengan cara menghisap cairan daun. Akibatnya daun menjadi keriput, berwarna kekuningan, terpuntir, dan tanaman menjadi kerdil. Hama kutu daun juga bisa menularkan berbagai penyakit, seperti tungau, embun jelaga, dan virus. Bahkan hama ini juga bisa mengundang semut. Para petani biasanya mengendalikan kutu daun dengan cara menyemprot tanaman tomat secara bergantian menggunakan insektisida yang berbahan aktif imidakloprid, fipronil, dan protiofos.

6.3   Penyakit Tomat yang Penting

Di dataran tinggi tanaman tomat dihadapkan pada tiga penyakit yang penting dan dapat fatal akibatnya, yaitu:

–            Penyakit daun Phyptophora infestans

–            Penyakit daun Alternaria solani

–            Penyakit akar Bacterium solanacearum

Di dataran rendah, penyakit daun tersebut tidak membahayakan, karena dalam musim kemarau saat yang paling baik untuk menanam tomat adalah pada hawa yang kering. Kelembaban di dataran tinggi adalah faktor utama penyebab timbulnya penyakit daun sepanjang tahun. Penyakit akar juga dapat berjangkit di kedua daerah dengan intensitas keganasan yang sama.

Penyakit Phyptophora infestans

Penyakit ini merupakan sejenis cendawan yang dpat pula mengganaspada tanaman kentang dan kelaurga dari Solanacearum. Daun dan buah tomat menjadi sasaran utamannya. Sejak mulai di persemaian penyakit ini bisa berjangkit. Tanaman yang baru ditanam bisa menunjukkan gejla serangan pertama yang kemungkinan juga dibawa dari persemaian.

Infeksi dimulai di pinggir daun maupun di tengah-tengah daun, seperti bercak-bercak sawo matang. Bercak-bercak tersebut melebar dan akhirnya seluruh daun membusuk kering, keriting, dan kebanyakan bergantungan pada batang. Dibagian bawah daun yang membusuk terdapat spora, warnanya putih kelabu. Buah tomat yang masih hijau dapat pula diserang, akibatnya buah menjadi busuk dan kering serta belah-elah apda tempat pembusukan.

Penyakit Alternaria solani

Penyakit ini selain menyerang tomat dapat pula menyerang tanaman kentang, kol, petsai, dsb. Alternaria mudah mengganas apabila cuaca cerah diikuti oleh cuaca yang lembab (hujan). Serangan dapat berjalan cepat dan mematikan. Akibat dari infeksi kedua dari penyakit daun ini tanamannya kehilangan daun yang sehat, pertumbuhannya merana, dan hasilnya akan sangat menurun.

Gejala-gejala penyakit Alternaria dimulai dengan bintik-bintik berwarna sawo matang, lambat laun dilingkari oleh garis yang agak berliku-liku. Akhirnya dibentuklah lingkaran-lingkaran yang tidak merata, namun konsentris. Untuk mencegah berjangkitnya kedua penyakit tadi, hendakna seluruh tanaman tomat disemprot dengan fungisida 10-14 hari sekali, misalmya Dithane M.15, Antracol, dsb.

Penyakit akar Bacterium solanacearum

Dalam bahasa daerah penyakit ini bernama hama wedang. Nama ini sesuai dengan gejalanya, yaitu seluruh tanaman menjadi layu seolah-olah bekas disiram air panas (wedang). Bakteri ini menyerang akar secara total dan menjalar ke batang. Bilamana batang dipotong, dan dekat potongannya kita tekan, maka akan keluar lendir. Lendir ini mengandung berjuta-juta bakteri.

Hama wedang berjangkit di dataran tinggi dan rendah, iterutama di tanah-tanah merah (latosol). Bagian yang diserang bukan tanamannya saja, seluruh anggota Solanacea yang bermanfaat bagi manusia pun tidak dikecualikan. Di luar keluarga ini, yaitu kacang tanah dn kedelai, menadi sasarannya pula. Di sawah-sawah yang giliran penanamannya padi-palawija-padi dan seterusnya, bahaya dari hama wedang ini sangat berkurang karena tanahnya mengalami pengairan yang intensif dalam musim hujan. Di dataran tinggi, karena giliran tanamannya pada umumnya kentang-kol-jagung atau jagung-kol-tomat atau ketela rambat-kol-tomat-jagung, tanahnya jarang mengalami pengairan yang intensif atau digenangi, maka penyakit ini mudah berjangkit dan menjalar.

Giliran kentang-tomat pasti mengundang datangnya bakteri ini. Bila disuatu tempat telah terjadi adanya infeksi, maka tanah tersebut lebih baik jangan ditanami tomat atau kentang selama tiga tahun berturut-turut. Namun di dataran tinggi yang serba kekurangan tanah garapan, kebanyakan mengambil resiko yang seminim mungkin, yaitu mengikuti rotasi penanaman kentang-kol-tomat atau jagung-kol-tomat-kentang dan seterusnya. Tomat dan kentang tidak ditanam berurutan.

Pengobatan secara langsung terhadap hama wedang ini tidak ada, hanya pencegahan terhadap infeksi dapat dilaksanka dengan menanam bergiliran. Jangan sekali-kali mengalirkan air siraman dari tempat yang telah ada penyakitnya ke tempat yang masih bebas.

Penyakit akibat Virus

Penyakit virus ini lebih kecil daripada balteri. Mudah disebarluaskan oleh manusia sendiri. Mereka bergesekan dnegan tanaman yang dihinggapi virus unutk kemudian secra tidak disadari memindahkan virus itu ke tanaman yang masih sehat. Jenis-jenis kutu pucuk daun merupakan transportir tanpa dibayar unutk virus berpindah tempat. Beberapa jenis virus dapat menyerang tanaman tomat. Serangan virus, terutama pada daun tomat mengakibatkan  bermacam-macam gejala bergantung pada jenis virus itu sendiri.

Gejalanya ada yang mengakibatkan daunnya keriting atau warnanya menjadi mozaik, atau seluruh tanaman menjadi kerdil. Virus tidak dapat dibasmi secara langsung. Secara preventif dapat dilaksanakan membasmi kutu pucuk yang membawanya kemana-mana. Karena penyakit virus yang menyerang kentang adalah yang sama jenisnya, maka tanaman tomat yang sehat mudah dihinggapi virus yang berasal dari tetangga kentang.

Blossom and Rot

Penyakit blossom and rot atau busuk ujung buah, menyerang buah tomat baik yang masih muda maupun yang sudah tua. Gejala serangan penyakit ini sudah tampak ketika buah masih muda. Mula-mula terlihat bercak berwarna hijau gelap pada ujung buah tomat yang kemudian berubah menjadi basah dan berwarna cokelat sampai kehitaman. Setelah itu ujung buah akan mengerut, bentuknya menjadi pipih, dan daging buah dalam setiap dompolan menjadi busuk basah dan busuk kering. Serangan yang hebat dari penyakit ini kadangkala disertai dengan tumbuhnya cendawan pada buah. Jika hal ini terjadi hasil panen bisa berkurang hingga 85%.

Penyakit blossom and rot biasanya disebabkan oleh kekurangan unsur hara mikro Ca (kalsium). Unsur Ca pada tanaman berguna untuk menyusun dinding-dinding sel serta membantu proses pembelahan sel dan perpanjangan sel. Kekurangan unsur hara Ca disebabkan oleh kondisi tanah yang miskin unsur mikro Ca, pemupukan yang kurang berimbang, dan tanaman tidak bisa mengambil Ca karena kondisi tanah terlalu kering atau terlalu basah.

Penyakit ini bisa diatasi dengan berbagai cara, antara lain penebaran kapur dolomit, pemupukan yang berimbang, pengairan yang merata, dan penyemprotan CaCl2 pada seluruh permukaan daun dengan frekuensi 5-7 hari sekali sebanyak 0,1%. Lakukan penyemprotan sampai tanaman benar-benar sembuh. Sementara itu, buah yang sudah terserang harus segera dipetik dan dimusnahkan.

Penyakit Layu Fusarium

Penyakit layu fusarium disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum. Penyakit ini biasanya menyerang tanaman tomat di dataran tinggi yang memiliki kelembapan tinggi di musim hujan. Tanaman tomat yang terkena penyakit ini ditandai dengan menguningnya daun-daun muda, memucatnya tulang-tulang daun tomat bagian atas, tangkai daun terkulai kemudian tanaman menjadi layu. Gejala lain yakni batang membusuk dan berbau amoniak. Jika pangkal batang tanaman dipotong akan muncul warna cokelat berbentuk cincin dari berkas pembuluhnya.

Langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah serangan penyakit layu fusarium sebagai berikut.

v  Lakukan pemupukan yang berimbang.

v  Pilih dan tanam bibit yang tahan terhadap serangan penyakit layu fusarium.

v  Pilih lokasi penanaman yang berdrainase cukup baik.

v  Pilih daerah yang bersirkulasi udara lancar.

v  Pilih lokasi yang mendapatkan sinar matahari penuh.

v  Pilih tanaman yang masih sehat, artinya bukan dari berkas tanaman inang yang sudah terinfeksi layu fusarium.

v  Rendam bibit ke dalam larutan benomil 0,1% sebelum penanaman. Atasi penyakit ini dengan memberikan fungisida sistemik yang berbahan aktif benomil, misalnya Benlete. Sementara itu, tanaman yang sudah terserang segera dicabut untuk dimusnahkan dan lubang bekas penanaman ditaburi kapur. Jika terjadi serangan yang hebat, lahan bekas serangan cendawan fusarium tidak boleh ditanami selama dua tahun dengan tanaman yang masih satu keluarga Solanaceae karena cendawan ini mampu bertahan hidup di dalam tanah selama dua tahun. Akibat serangan layu fusarium hasil panen dapat menurun hingga 50%.

Penyakit Layu Bakteri

Penyakit layu bakteri (bacterial wilt) disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum E.F Smith. gejalanya berupa layu pada tanaman seperti bekas tersiram air panas, jika tidak segera diobati dalam beberapa hari tanaman akan mati. Tanda-tanda lainnya adalah munculnya bercak-bercak cokelat pada berkas pembuluhnya jika bagian batangnya dipotong. Membedakan antara layu bakteri dengan layu fusarium cukup gampang. Pada layu bakteri jika bagian batangnya direndam di dalam air jernih, dalam beberapa menit akan keluar cairan berwarna cokelat susu dari batang tersebut. Sementara itu, pada layu fusarium bagian batangnya tidak mengeluarkan cairan yang berwarna cokelat.

Penyakit layu bakteri biasanya menyerang tanaman tomat yang tumbuh di daerah dataran rendah dengan suhu dan kelembapan yang tinggi. Penyakit ini juga senang menghuni tempat yang kondisi tanahnya becek dan tergenang air serta lahan dari bekas tanaman inang yang terserang penyakit layu bakteri. Penyakit ini bisa menyebar dengan cepat lewat biji, serangga, air, peralatan pertanian, dan angin.

Serangan layu bakteri bisa dikendalikan dengan memakai Agrep 20 WP atau Agrimycin 15/1,5 WP. Sementara itu, langkah preventif yang bisa dilakukan adalah menebar lahan bekas terserang penyakit layu bakteri dengan kapur dan tidak menanami lahan tersebut selama dua tahun dengan tanaman yang bisa menjadi inang pseudomonas, misalnya tanaman dari keluarga Solanaceae dan pisang karena bakteri ini dapat bertahan di dalam tanah selama dua tahun.

Penyakit Busuk Buah

Penyakit busuk buah disebabkan oleh cendawan Colectroticum sp. Serangan cendawan ini ditandai dengan adanya bercak pada buah yang terus melebar. Pada serangan yang serius, buah akan membusuk dan dapat mengurangi hasil sampai 75%.

Penanggulangan penyakit busuk buah bisa dilakukan dengan mengatur jarak tanam yang tidak terlalu rapat, melakukan pemangkasan yang teratur, dan melakukan penyemprotan dengan fungisida sistemik atau fungisida kontak yang berbahan aktif karbendazim fenorimol.

6.4   Gejala-gejala yang Bukan Berasal dari Penyakit

Pada buah tomat sering tampak gejala-gejala yang tidak berasal dari ulah hama atau infeksi penyakit. Gejala-gejala tersebut dapat dikatagorikan sebagai gangguan fisik, misalnya:

  1. Buah bagian dalamnya kelompang atau berongga. Rongg ini terbentuk karena lendir yang meliputi biji tidak cukup banyak untuk mengisi rongga dalam ketiga bilik buah. Gejala tersebut adalah akibat dari kurang baiknya persarian. Kurang baiknya persarian ini adalah gejala dari tidak mudah terlepasnya sari karena tingginya kelembaban hawa (hujan dan embun). Persarian yang tidak sempurna ini dapat pula terjadi karena tanaman kekurangan zat fosfat, sehingga tidak cukup banyak sari bunga yang dibentuk. Untuk menghindarkanbuah berongga, dapat ditempuh dengan jalan membantu persarian. Menggerak-gerakkan batang tanaman atau memukul-mukul malai bunga dengan sepotong kayu sebesar pensil dapat memaksa tepung sari berjatuhan diatas putik.
  2. Bagian atas buah bercelah-celah, seperti jari-jari yang berpangkal dekat kaki tangkai buah. Warnanya sawo matang hingga kehitam-hitaman. Gejala ini adalah akibat dari guncangan suhu udara agak tinggi, misalnya pada siang hari cuaca cerah dan pada malam harinya suhu sangat dingin, keadaan ini sering terjadi di daerah pegunugan. Gejala tersebut dapat pula tampak bilamana tanaman tomat yang sedang brbuah lebat diserang penyakit daun cukup berat, sehingga penguapan air sebagian besar ditanggung oleh buah.
  3. Bagian atas buah bercelah-celah melingkari tangkai buah. Gejala ini adalah akibat dari tidak terlindungnya buah dari sinar matahari.
  4. Buah tomat berkerak hijau. Bagian atas buah yang melingkari kaki tangkainya berwarna hijau tua, walaupun buahnya masih muda. Dengan meningkatnya kemasakan buah bagian yang hijau tua tersebut, warna berubah menjadi kuning. Daging dibagian tersebut mengeras dan tidak dapat dimakan. Gejala tersebut adalah akibat dari cuaca yang sangat terik panasnya. Kebnayakan rabuk zat lemas dapat pula mengakibatkan gejala tadi. Untuk menghindarkan akibat dari sengatan matahari (gejala b, c, dan d), beberapa cabang dapat dibiarkan untuk melindungi buah. Gejala-gejala tersebut tidak mudah terjadi pada tanaman tomat yang melata.

BAB VII

ANEKA PENGOLAHAN BUAH TOMAT

            Selain dipasarkan dalam bentuk segar, buah tomat juga bisa dipasarkan dalam bentuk olahan. Beberapa hasil olahan tomat dan cara membuatnya dapat disimak sebagai berikut.

7.1   Saus Tomat

Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat saus tomat sebagai berikut.

v  Sari buah tomat 10 kg. Cara membuatnya, rebus dan hancurkan tomat dengan memakai blender, kemudian saring airnya.

v  cabai merah segar 1 ons atau sesuai selera.

v  Bawang merah 3 siung.

v  Bawang putih 3 siung.

v  Lada secukupnya.

v  Pala secukupnya.

v  Gula pasir 1 kg.

Masak semua bumbu dan sari buah tomat. Atur pengapiannya supaya tidak terlampau besar. Setelah tersisa separuhnya, angkat dan masukkan saus ke dalam botol yang ditutup rapat kemudian kukus selama 15 menit.

7.2   Konsentrat Buah Tomat

Konsentrat buah  tomat adalah salah satu produk tomat segar yang diolah dalam bentuk pasta. Cara membuatnya, hancurkan buah tomat yang sudah masak dan pisahkan cairan atau sari buah yang diperoleh dengan cara dimasak.

BAB VIII

KESIMPULAN

            Tanaman tomat tidak menyukai tanah yang tergenamg air atau becek. Tanah yang keadaannya demikian menyebabkan akar tomat mudah busuk dan tidak mampu menghisap zat-zat hara dari dalam tanah karena sirkulasi udara dalam tanah di sekitar akar tomat kurang baik. Akibatnya tanaman akan mati.

Untuk pertumbuhannya yang baik, tanaman tomat membutuhkan tanah yang gembur, kadar keasaman (pH) antara 5-6, tanah sedikit mengandung pasir, dan banyak mengandung humus, serta pengairan yang teratur dan cukup mulai tanam sampai tanaman mulai dipanen. Bagi tanaman genjah dan yang dikehendaki cepat panen, tanah liat berpasir akan lebih baik.

Tanaman ini tidak tahan terhadap hujan yang lebat dan tidak suka pada daerah yang selalu berawan. Daerah dengan kondisi demikian memungkinkan tanaman mudah terserang penyakit cendawan busuk daun Phytophtora infestans dan sebangsanya. Angin kering dan udara panas kurang baik bagi pertumbuhannya karena sering menyebabkan kerontokan bunga.

DAFTAR PUSTAKA

Tugiyono, Herry. 2007. Bertanam Tomat. Penebar Swadaya: Jakarta.

T. Wahyu Wiryanta, Bernandinus. 2002. Bertanam Tomat. AgroMedia Pustaka:     Jakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s