Pembiayaan Agribisnis Tanaman (buah) Tomat

BAB I

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Sesuai dengan perkembangan dunia tomat dalam hal budidaya, maka untuk mengetahui untung tidaknya budidaya tersebut diperlukan analisis ekonominya. Menyenangkan secara teknis, belum tentu menjamin menyenangkan juga secara ekonomi tanpa melihat perhitungannya lebih dahulu.

Untuk lebih memahami prospek bertanam tomat, akan lebih baik jika dilihat dari aspek ekonominya. Dengan melihat tingkat keuntungan tanaman tomat para petani akan semakin mantap dengan komoditi pilihannya. Apalagi tomat merupakan sayur dan buah yang setiap hari dibutuhkan, baik oleh kalangan rumah tangga, restoran, hotel, maupun pabrik. Bagi pemula, analisis ini akan membantu mempermudah menentukan pilihan.

 1.2    Batasan Masalah

Dalam pembahasan makalah ini kami melakukan pengumpulan data dengan pembatasan masalah yang di kaji dalam pembiayaan agribisnis tanaman tomat. Adapun pembatasan masalah itu, yakni :

  • Analisis Usaha Tani Sistem Hidroponik.
  • Analisis Usaha Tani Budidaya Tomat di Kebun.

1.3    Tujuan yang Ingin Dicapai

Penyusunan makalah ini telah dilakukan dengan mencari pembahasan dari berbagai sumber yang berkaitan dengan kajian. Sehingga diharapkan dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

Kami berharap mampu menjelaskan tentang pembiayaan agribisnis untuk komoditas tomat yang dalam hal ini melinkupi analisis usaha tani sistem hidroponik dan analisis usaha tani budidaya tomat di kebun.

1.4    Metode yang Digunakan

Perlu adanya metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini. Adapun metode yang kami gunakan, yaitu Metode deskriftif dengan teknik study kepustakaan atau literature, yaitu pengetahuan yang bersumber dari beberapa media tulis baik berupa buku, litelatur dan media lainnya yang tentu ada kaitannya masalah- masalah yang di bahas di dalam makalah ini.

  

BAB II

Pembiayaan Agribisnis Tomat

Untuk lebih memahami prospek bertanam tomat, akan lebih baik jika dilihat dari aspek ekonominya. Dengan melihat tingkat keuntungan tanaman tomat para petani akan semakin mantap dengan komoditi pilihannya. Apalagi tomat merupakan sayur dan buah yang setiap hari dibutuhkan, baik oleh kalangan rumah tangga, restoran, hotel, maupun pabrik. Bagi pemula, analisis ini akan membantu mempermudah menentukan pilihan.

Sesuai dengan perkembangan dunia tomat dalam hal budidaya, maka untuk mengetahui untung tidaknya budidaya tersebut diperlukan analisis ekonominya. Menyenangkan secara teknis, belum tentu menjamin menyenangkan juga secara ekonomi tanpa melihat perhitungannya lebih dahulu. Untuk itu dalam bab ini akan ditampilkan nalisi usaha tani tomat secara hidroponik dan analisis usaha tani tomat di kebun.

1.    Analisis Usaha Tani Sistem Hidroponik

Biaya tetap

–        Greenhouse 500 m2, @ Rp 4.000,00 ………. Rp 2.000.000,00

–        Spayer gendong ……… Rp    100.000,00

–        Peralatan siram, dan lain-lain ………. Rp    100.000,00

–        Hygrometer ………. Rp      25.000,00

–        Thermometer ……….  Rp     25.000,00

–        Tong plastik penyimpan larutan ……… Rp      75.000,00

Jumlah ………………………………….. Rp 2.325.000,00

Biaya investasi ini diperkirakan untuk masa pakai selama tiga tahun, sehingga biaya penyusutan selama 36 bulan adalah:

Rp 2.325.000,00 : 36 bulan = Rp 64.583,00 x 3 bulan ……… Rp     193.749,00

–        Sewa tanah semusim (semusim 90 hari) ………. Rp      75.000,00

Jumlah ……………………………………….. Rp    268.749,00

  1. Biaya Variabel
  2. Bahan baku

–        Arang sekam padi 5 m3, @ Rp 10.000,00 ………. Rp     50.000,00

–        Pasir kali 1 m3, @ Rp 20.000,00 ……… Rp     20.000,00

–        Tali rami 20 gulung, @ Rp 500,00 ……… Rp     10.000,00

–        Polibag 1000 buah, @ Rp 50,00 …….. Rp     50.000,00

–        Benih unggul 40 gr, @ Rp 500,00/10 gr …….. Rp     20.000,00

–        Larutan hara/nutrisi Rp 1.800,00/tanaman/musim …….. Rp 1.800.000,00

Jumlah …………………………………………………… Rp 1.950.000,00

  1. Bahan penunjang

–        Transport tiga bulan x 25 hari x Rp 4.000,00 ……… Rp    300.000,00

–        Alat tulis kantor ……… Rp      50.000,00

Jumlah ……………………………………….. Rp    350.000,00

  1. Ongkos kerja

–        Tenaga administrasi 1 orang ……… Rp    300.000,00

–        Tenaga penyiraman tanaman 1 orang ………. Rp    225.000,00

–        Tenaga perawat tanaman 1 orang ……….. Rp    225.000,00

Jumlah ………………………………………….. Rp    750.000,00

Jumlah biaya variabel ………………………………………….. Rp 3.050.000,00

Jumlah biaya tetap dan variabel …………………………………. Rp 3.512.498,00

Biaya tak terduga (10% dari total biaya) ……………………….. Rp       51.259,80

  1. Biaya total per musim (3 bulan) ………………………… Rp  3.863.747,80
  2. Hasil produksi semusim

1.000 pohon x 3 kg x Rp 1.750 ………….. Rp   5.150.000,00

  1. Keuntungan

(Rp 5.150.000,00 – Rp 3.863.747,80) …………………… Rp  1.286.252.20

Keterangan:

–            Rumah kaca berukuran sedang    = 500 m2

–            Jumlah tanaman                           = 1.000 pohon

–            Harga jual per kg                          = Rp 1.750,00

–            Per musim tanam dihitung 3 bulan

Sumber: Seminar Hidroponik Trubus, November 1991, diolah.

Dari data di atas masih perlu dihitung nilai titik impas atau BEP (Break Even Point), perbandingan antara penerimaan dengan total biaya (R/C), dan perbandingan antara keuntungan dengan total biaya (B/C). Perhitungan-perhitungan itu akan membantu dalam menilai kelayakan usaha ini.

Perhitungan:

BEP =

Biaya tetap

1 – biaya variabel/hasil penjualan

         =

Rp 268.749,00

1 – Rp 3.050.000,00/Rp 5.150.000,00

= Rp 109.586,97

= Rp 109.587,00

R/C = hasil penjualan/total biaya

= Rp 5.150.000,00/Rp 3.863.747,80

= 1,33

B/C = keuntungan/total biaya

= Rp 1.286.252,20/ Rp 3.863.747,80

= 0,33

Nilai titik impas (BEP) tomat hidroponik sebesar Rp 109.587,00. Ini berarti budidaya sistem ini dalam kondisi impas jika produksinya laku dijual seharga Rp 125.936,865. Jika harga per kilogramnya Rp 1.750,00, maka usaha tani ini sudah akan impas ketika jumlah produksinya 62,6 kg/musim atau sekitar 0,626 ons/pohon. Padahal kenyataannya per pohon rata-rata menghasilkan 3 kg buah yang berarti dari usaha ini telah dapat diperoleh keuntungan.

Hasil R/C sebesar 1,33. Angka ini menunjukkan bahwa tiap Rp 1,00 uang yang diinvestasikan akan menghasilkan Rp 1,33. Sedangkan perbandingan keuntungan dan biaya diperoleh angka sebesar 0,33. Ini berati tiap rupiah yang diinvestasikan akan memberi keuntungan sebesar 33%.

Agar usaha tani tomat secara hidroponik ini menguntungkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut.

–            Harga jual sebaiknya diatas Rp 1.000,00/kg.

–            Banyaknya tanaman paling sedikit 1.000 pohon.

–            Varietas tomat yang dipilih sebaiknya yang mempunya prestise dan harga tinggi, seperti tomat cherry dan tomat taiwan yang saat ini cukup dikenal.

Produksi tomat hidroponik ini mempunyai keunggulan-keunggulan dibandingkan dengan hasil budidaya di tanah, seperti kualitas produk yang lebih tinggi, komposisi warna yang menarik dan cemerlang, daya tahan buah yang lebih baik, serta dapat ditanam tanpa tergantung pada musim.

Modal awal untuk qomat hidroponik memang tidak kecil, namun imbalannya juga tidak mengecewakan. Dan perlu digaris bawahi hidroponik tomat ini bukan suatu keharusan, melainkan hanyalah suatu alternatif. Seandainya muncul kendala iklim atau kondisi alam lain yang tidak memungkinkan atau mengkhawatirkan untuk dilakukannya budidaya secara konvensional, maka cara hidroponik dapat dipakai.

2.   Analisis Usaha Tani Budidaya Tomat di Kebun

Bagaimana prospek usaha tani tomat yang dikembangkan dikebun? Budidaya di kebun selain biayanya lebih murah, hasilnya jua tidak mengecewakan. Berikut ini adalah paparan usaha tani tomat di kebun yang dibuat berdasarkan pengalaman petani tomat di Cikole, Lembang. Dalam analisis ini, angka produksi yang digunakan adalah angka produksi yang minimum, sedang biaya adalah biaya normal. Maksud penggunaan angka tersebut adalah untuk menjaga kemungkinan munculnya resiko.

Uraian

Musim Hujan (MH)

(dalam Rp)

Musm Kemarau (MK)

  1. Biaya Tetap
–       Sprayer 2 bh = Rp 160.000,00
Ajir 20.000 btg =
Rp 300.000,00
Penyusutan : Sprayer

4.700

4.700

Ajir

150.000

150.000

–       Sewa tanah

170.000

170.000

Pajak

8.000

8.000

332.700

332.700

  1. Biaya Variabel
  1. Benih 200 gr

250.000

250.000

  1. Pupuk:
–       Pupuk kandang 28 ton

700.000

700.000

–       ZA 125 kg @Rp 250,00/kg

31.250

31.250

–       TSP 125 kg @Rp 250,00/kg

31.250

31.250

–       KCl 200 kg @Rp 300,00/kg

60.000

60.000

  1. Pestisida
–       Polyram 140 kg (MH)

1.148.000

100 kg (MK

820.000

–       Curacron 10 L (MH)

320.000

6 L (MK)

192.000

–       Nutraphos 40 kg (MH)

320.000

20 kg (MK)

160.000

–       Ridomil 5 kg (MH)

180.000

  1. Tenaga Kerja:
–       Pengolahan tanah

700.00

700.00

–       Pembuatan ajir

67.500

67.500

–       Penyemaian

2.500

2.500

–       Penyapihan dan pemeliharaan

300.000

300.000

–       Pemeliharaan

472.500

887.500

–       Panen dan angkut

30.000

30.000

4.613.000

4.232.000

Biaya tetap + variabel

4.945.700

4.564.700

Biaya tak terduga 10%

494.570

456.470

  1. Biaya total

5.107.570

4.688.470

  1. Penerimaan
Produksi minimum 20 ton
Harga jual Rp 400,00/kg (MK)

8.000.000

Rp 450,00/kg (MH)

9.000.000

  1. Keuntungan
Penerimaan – biaya

3.892.430

3.311.530

Keterangan:

–       Sprayer dapat dipakai selama 10 tahun

–       Ajik dapat digunakan 2 musim tanam

Perhitungan:

–       Budidaya musim hujan

BEP =

Rp 332.700,00

1 – Rp 5.107.570,00/Rp 9.000.000,00

= Rp 143.890,00

R/C = Rp 9.000.000,00/Rp 5.107.570,00

= 1,76

B/C = /Rp 3.892.430,00/Rp 5.107.570,00

= 0,76

–       Budidaya musim kemarau

BEP =

Rp 332.700,00

1 – Rp 4.232.000,00/Rp 8.000.000,00

= Rp 156.702,00

R/C = Rp 8.000.000,00/Rp 4.688.470,00

= 1,71

B/C = Rp 3.311.530,00/Rp 4.688.470,00

= 0,71

Hasil perhitungan menunjukkan nilai titik impas pada musim hujan adalah Rp 143.890,00. Jika harga jual tomat pada musim itu adalah Rp 450,00, maka kondisi impas sudah tercapai dengan produksi tomat sebanyak 319,7 kg/ha. Sedang pada musim kemarau nilai titik impasnya sebesar Rp 156.702,00. Nilai ini menunjukkan bahwa kondisi impas akan dicapai ketika produksi telah mencapai 391,7 kg. Dengan asumsi harga pada musim kemarau sebesar Rp 400,00.

Nilai rasio penerimaan dengan biaya pada musim hujan sebesar 1,76, sedang pada musim kemarau hanya 1,71. Hal ini berarti untuk setiap Rp 1,00 biaya yang ditanamkan akan diperoleh penerimaan sebesar Rp 1,76 pada musim hujan dan Rp 1,71 pada musim kemarau. Dengan kata lain, tiap rupiah yang diinvestasikan akan mendatangkan keuntungan sebesar 76% pada musim hujan dan 71% pada musim kemarau.

Dalam paparan ini sengaja ditampilkan penanaman pada musim hujan dan kemarau karena ada perbedaan biaya antar kedua musim tanam ini. Pada musim hujan, banyak menggunakan pestisida karena pada saat itu tanaman sangat peka hama dan penyakit, termasuk penyakit fisiologis. Sedangkan pada musim kemarau yang banyak membutuhkan biaya adalah saat pemeliharaan. Tanaman harus lebih diintensifkan pengairannya.

Budidaya pada musim hujan lebih tinggi untungnya karena harga jual bisa lebih baik. Meningkatnya harga jual karena produsen cenderung menghindari risiko musim yang kurang disukai tanaman tomat. Akibatnya, suplai di pasar rendah dan harga meningkat.

BAB III

KESIMPULAN

Agar usaha tani tomat secara hidroponik ini menguntungkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut.

–            Harga jual sebaiknya diatas Rp 1.000,00/kg.

–            Banyaknya tanaman paling sedikit 1.000 pohon.

–            Varietas tomat yang dipilih sebaiknya yang mempunya prestise dan harga tinggi, seperti tomat cherry dan tomat taiwan yang saat ini cukup dikenal.

Produksi tomat hidroponik ini mempunyai keunggulan-keunggulan dibandingkan dengan hasil budidaya di tanah, seperti kualitas produk yang lebih tinggi, komposisi warna yang menarik dan cemerlang, daya tahan buah yang lebih baik, serta dapat ditanam tanpa tergantung pada musim.

Dalam paparan diatas, ditampilkan penanaman pada musim hujan dan kemarau karena ada perbedaan biaya antar kedua musim tanam ini. Pada musim hujan, banyak menggunakan pestisida karena pada saat itu tanaman sangat peka hama dan penyakit, termasuk penyakit fisiologis. Sedangkan pada musim kemarau yang banyak membutuhkan biaya adalah saat pemeliharaan. Tanaman harus lebih diintensifkan pengairannya.

Budidaya pada musim hujan lebih tinggi untungnya karena harga jual bisa lebih baik. Meningkatnya harga jual karena produsen cenderung menghindari risiko musim yang kurang disukai tanaman tomat. Akibatnya, suplai di pasar rendah dan harga meningkat.

DAFTAR PUSTAKA

Tugiyono, Herry. 2007. Bertanam Tomat. Penebar Swadaya: Jakarta.

T. Wahyu Wiryanta, Bernandinus. 2002. Bertanam Tomat. AgroMedia Pustaka:     Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s